Kilas Penyelenggaraan Konsep BDS di Propinsi NTT

Penjaringan minat BDSP (Business Development Service Provider) di Provinsi NTT disesuaikan dengan dokumen penyelenggaraan BDS hasil Lokakarya di Kota Mataram-NTB pada Juli 2008. Salah satu langkah awal adalah sosialisasi penjaringan minat untuk menjadi BDSP kepada masyarakat melalui Media Massa. Pada tahap penjaringan minat melalui Media Massa, disampaikan dalam laporan Konsultan Bank Dunia (Roger Montgomery, Back to Office Report  No. 4, July 2009), bahwa pelaku konsultan di masing-masing provinsi lokasi PNPM Agribisnis Perdesaan hanya menempatkan iklan di media massa lokal di tingkat Provinsi. Masih berdasarkan laporan yang dihasilkan disimpulkan bahwa media massa tingkat Propinsi kurang bahkan belum memiliki keluasan jangkauan sampai ke propinsi lain (regional-nasional), misalnya: masyarakat di Jawa Timur tidak akan mengenal Pos Kupang atau Flores Pos, masyarakat disana hanya mengenal Jawa Pos atau Kompas. Hal ini menyebabkan minimnya keterlibatan BDSP potensial yang berasal dari luar Provinsi NTT.

Pembelajaran pertama adalah bahwa strategi pemilihan media massa untuk menjaring minat adalah hal yang vital! Ketika di sebuah wilayah belum memiliki lembaga/perorangan yang memiliki jaminan kompetensi untuk kemudian menjadi BDSP dan terlibat pada penyelenggaraan agenda pemberdayaan di kelompok tani, maka semakin luas sebaran jangkauan wilayah sebuah Media Massa maka semakin baik. Fakta menunjukkan bahwa -pada kondisi tertentu- Provinsi NTT masih memiliki ketergantungan yang “akut” terhadap Propinsi lain. Berikut adalah dua contoh “ketergantungan” Propinsi NTT terhadap pemenuhan layanan jasa pengembangan agribisnis (BDSP) dari lembaga/profesional diluar Propinsi:1) Untuk mengembangkan agribisnis kopi di Kabupaten Ngada dalam memenuhi target ekspor ke Oakland-Amerika, Dinas Perkebunan Kab. Ngada melakukan kerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur; 2) Untuk melakukan mengoptimalkan rantai nilai pemasaran produksi Mete di Kab. Ngada, YMTM (Yayasan mitra Tani Mandiri) Kab. Ngada melakukan kerjasama dengan PT. Supa Surya di Kota Surabaya;Jika melihat lagi ke belakang, pemberitaan informasi mengenai penjaringan BDSP di Provinsi NTT dilakukan dengan melakukan analisa terhadap terdapat 2 (dua) media massa yang memiliki oplah relatif tinggi dibandingkan dengan media massa lain di tingkat Propinsi, yaitu Pos Kupang dan Flores Pos. Untuk diketahui bahwa Pantau (www.pantau.or.id) pernah melakukan sebuah penelitian mengenai surat kabar di wilayah Flores Timur, Ende, Sikka dan Ngada. Ada sejumlah suratkabar yang beredar di empat Kabupaten tersebut, misalnya Pos Kupang, Timor Ekspress, Flores Pos, mingguan Dian, dan sebagainya. Dari semua pembaca suratkabar, sebanyak 86.1% pernah tahu adanya Pos Kupang dan 84.7% tahu adanya Flores Pos. Keduanya adalah dua suratkabar yang paling banyak dibaca di Flores Timur, Ende, Sikka dan Ngada. Berangkat dari data tersebut serta untuk kepentingan efisiensi dan efektivitas, pelaku PNPM Agribisnis Perdesaan Propinsi NTT kemudian memilih Pos Kupang sebagai media untuk menjaring minat lembaga/individu yang tertarik untuk menjadi BDSP. Isi iklan penjaringan minat BDSP di harian Pos Kupang dapat dibaca pada Kotak 6.

Kotak 1: Isi Materi Iklan

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT-AGRIBISNIS PERDESAAN (PNPM-AP) UNDANGAN PENAWARAN PENYEDIA JASA

Dalam rangka melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Agribisnis Perdesaan (PNPM-AP) menawarkan kepada LSM, Universitas, perusahaan-perusahaan, individu-individu, dan lain-lain untuk berpartisipasi dalam pengelolaan aktivitas-aktivitas sebagai berikut:

  1. Pelatihan penguatan kelembagaan petani
  2. Pelatihan peningkatan kapasitas petani dalam budidaya tanaman Hortikultura, Jagung, Padi dan Palawija, Jeruk, Ikan air tawar,  Kacang Tanah, Bawang, Kacang Kedele,  Kacang Mete, Kakao, Kopi, Kemiri, Jahe, serta Mina padi.
  3. Pelatihan peningkatan kapasitas petani dalam hal Inseminasi Buatan (IB),  budidaya ternak : ayam buras, babi, sapi, kambing,dan Hijauan Makanan Ternak.
  4. Pelatihan pembuatan pupuk Organik.
  5. Pelatihan dalam pengendalian hama dan penyakit terpadu untuk komoditi Hortikultura, jagung, padi, bawang, Jeruk, Kacang tanah, Kacang Kedele, Kacang Mete, Kakao, Kopi, Kemiri, kelapa dan Jahe.
  6. Pelatihan untuk peningkatan kapasitas petani dalam penanganan pasca panen dan pemasaran; Asam, Kelapa, Anggur merah dan Gula Semut, Ubi Kayu dan Patatas, Pisang, Ikan Air Tawar, Sapi, Babi, Kambing, Ayam buras, Kacang Kedele, Kacang Tanah, Kacang Mete, Kakao, Kopi, Kemiri, Jahe serta Pengawetan Hijauan Makanan Ternak.

Wilayah kerja adalah mencakup Kabupaten Ngada (Kecamatan Golewa, Aimere, dan Riung Barat) dan Kabupaten TTS (kecamatan Mollo Utara, Kuanfatu, dan Amanuban Selatan).  Penawaran minat dikirim via pos ditujukan ke alamat: 1). Kantor PNPM-MP Jl. Anggur No. 10A, Naikoten, Kupang, 85000; Telp:0380-823937; 2. Kantor PNPM-MP, Jl. Soekarno No. 2 Bajawa ; 3). Kantor PNPM-MP, Jl. Diponegoro, blkg Pos I. Polisi- Soe, dengan melampirkan profil lembaga/individu. Penawaran paling lambat dikirimkan pada tanggal. 7 Agustus 2008.

Keinginan Pengelola SADI Provinsi NTT untuk memasang iklan di sejumlah Media Massa –misal: Kompas atau Jawa Pos- dibatasi oleh ketersediaan anggaran, sehingga diputuskan untuk menggunakan satu Media Massa ansih. Cara lain yang kemudian dilakukan untuk memperluas sebaran informasi dalam rangka menjaring minat BDSP adalah melalui media elektronik di official blog SADI Provinsi NTT (http://nusataniterpadu.wordpress.com) pada tanggal 01 Agustus 2008 dan melalui mailing-list di forumacademiantt@yahoogroups.com. Upaya lain adalah mendorong pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten (Fasilitator Kabupaten dan Fasilitator Teknik Kabupaten) agar menyebarkan informasi tentang penjaringan BDSP kepada jaringan lembaga atau individu yang mereka miliki. Selain itu, ada juga rekomendasi dari beberapa pihak dan sempat terdokumentasi oleh pengelola SADI Provinsi NTT, beberapa rekomendasi dari beberapa pihak tersebut dapat dibaca pada tabel 1.

Tabel 1: Data rekomendasi pihak internal SADI dalam menjaring minat BDSP

Dari hasil penjaringan melalui iklan baik melalui Media Massa maupun Media Elektronik (Website dan Mailing-List) terdapat 88 aplikasi pernyataan minat yang diterima oleh pengelola PNPM Agribisnis Perdesaan (Gambar 1).

Gambar 1: Persentase pernyataan minat BDSP di Provinsi NTT

Persentase aplikasi minat sebagai BDSP yang terkirim di Kantor PNPM Agribisnis Perdesaan di Propinsi NTT paling banyak adalah dari Individu (50 %), umumnya mereka dari instansi Pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi. Aplikasi minat dari unsur “lain-lain” (23 %) ditolak karena tidak memenuhi syarat, aplikasi yang diajukan adalah untuk melamar sebagai Staff. Total jumlah long-list calon BDSP yang layak dalam pelaksanaan SADI adalah 68 calon BDSP, semua berasal dari Provinsi NTT. Berkaitan dengan tipe layanan mereka yang mengajukan diri sebagai calon BDSP, tabel berikut menjelaskan tentang  persentase tipe layanan para calon BDSP:

Tabel 2: Tipe Layanan pada Long-List Calon BDSP Provinsi NTT [1]

Identifikasi tipe layanan BDSP pada Tabel 2 diolah dari data profil lembaga/individu calon BDSP yang dikirimkan ke pengelola SADI Provinsi NTT. Dari data profil yang masuk, pengalaman kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh lembaga/individu menentukan kecenderungan tipe layanan lembaga/individu yang mengajukan diri sebagai calon BDSP.

Dari pelaksanaan ini dapat disimpulkan bahwa minat masyarakat untuk terlibat menjadi BDSP pada pelaksanaan SADI di Provinsi NTT masih minim, total long-list BDSP yang cukup layak untuk kemudian berkompetisi dalam proses pelelangan adalah 63 BDSP. Penulis memiliki database tentang daftar NGO yang berlokasi di Nusa Tenggara Timur, dari daftar tersebut terdapat 261 NGO yang tersebar di seluruh Provinsi NTT, 96 lembaga berada di Kota Kupang dan 21 lembaga di Kabupaten Ngada. Data ini belum termasuk asosiasi, koperasi, dan perusahaan di Provinsi NTT. Jika dibandingkan dengan data tersebut, hal ini cukup mengejutkan ketika jumlah aplikasi minat sebagai BDSP hanya 63 Lembaga-Individu. (**)


[1] Identifikasi tipe layanan BDSP pada Tabel 10 diolah dari data profil lembaga/individu calon BDSP yang dikirimkan ke pengelola SADI Provinsi NTT, Laporan SP1 NTT diolah, Juni 2009.

 

About these ads