Sumber: Laporan Adiana Ahmad, Spirit NTT, 3-9 Maret 2008

WAINGAPU, SPIRIT–Internasional Finance Corporation (IFC) bekerja sama dengan PT Ade Agro Industri menggelar lokakarya pengembangan jagung berbasis pasar di Waingapu, Rabu (27/2/2008).

Lokakarya yang berlangsung di aula Kantor DPRD lama Sumba Timur itu dihadiri perwakilan kelompok tani se-Sumba Timur, para pimpinan bank di Kabupaten Sumba Timur, LSM yang bergerak di bidang agribisnis dan Bappeda Sumba Timur.

Lokakarya ini menghadirkan nara sumber dari IFC Smallholder Agribussines Development Initiative (SADI) dan juga PT Ade Agro Industri. Dlam lokakarya itu, panitia lebih banyak memberikan ruang untuk diskusi dan sharing pengalaman.

Menurut Henra Agustiana, Regional Enterprise Development Coordinator For Timor Island SEAPlantNet, lokakarya ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang dihadapi petani dalam pegembangan jagung. Hasil lokakarya ini, jelas Henra, akan menentukan langkah selanjutnya bagi IFC SADI membuat program pegembangan jagung di Sumba Timur.

SADI yang merupakan lembaga kerja sama Indonesia- Australia, jelas Henra, mempunyai tiga program, yakni PNPM Agribisnis pedesaan yang merupakan kelanjutan dari PPK, IFC SADI yang bergerak mencari akses pasar bagi petani dan juga ACIAR yang bergerak di bidang pusat pengembangan agrikultur.

Khusus IFC SADI, jelas Henra, fokusnya ke pasar yakni melalui pendekatan dengan perusahaan besar di bidang usaha komoditi tertentu seperti jagung. Di Sumba Timur, kata Henra, Sadi bekrja sama dengan PT Ade Agro Industri karena perusahaan ini selain mengembangkan kapas juga mengembangkan tanaman jagung.

Henra mengatakan, pasar menjadi hal yang utama dalam pengembangan jagung karena pihaknya tidak ingin mengecewakan petani. “Kami baru bisa mengembangkan komoditi kalau yakin pasarnya bagus, ” kata Henra.

Ia mengatakan, pasar untuk jagung saat ini cukup bagus karena selain untuk kebutuhan ternak juga untuk bahan bakar. Untuk kebutuhan pakan ternak saja, kata Henra, Indonesia masih mengimpor jagung negara lain. Untuk kebutuhan pakan unggas, lanjut Henra, 60 persen jagung masih diimport pemerintah. Karena itu, Henra yakin menjadikan Sumba Timur sebagai pusat pengembangan jagung tidak keliru dan optimis program ini akan berhasil.

Sementara Associate Operation Officer Strengthening Private Sector Agribbusiness and SME Development Makasar, Hingki Suswanto, mengatakan, SADI sudah menerapkan program ini di Makassar tiga tahun yang lalu dan berhasil dengan baik. Pola pengembangan jagung di Makasar itu, katanya, yang coba diterapkan di Sumba Timur. “Kita optimis berhasil dan dalam waktu dekat kita akan tetapkan target-target,” katanya.

Soal kendala sosial budaya, Hengki yakin bisa diatasi. Menurutnya, di Makassar pada awal pengembangan program ini kendala yang sama juga dihadapi SADI. Namun seiring dengan perjalanan waktu kendala itu akhirnya bisa diatasi. Kontribusi SADI ke petani, katanya, tidak dalam bentuk modal kerja tetapi bimbingan teknis atau pendampingan terutama dalam hubungan dengan perusahaan dan juga koperasi dengan perbankan.

Dalam lokakarya ini, IFC SADI juga menyampaikan pengalaman pengembangan jagung di Makassar. Program Assistant Integrated Poultry Agribusiness Linkages Advisry Services In Indonesia Makassar, Hermansyah Gafur, mengatakan, di Makassar pola kemitraan berjalan bagus dan saat ini kelompok tani dan koperasi bisa kredit di bank. Pola seperti itu yang akan diterapkan di Sumba Timur.

Dikatakan Hermansyah, kebutuhan jagung dalam negeri setiap tahun sekitar 7,5 juta ton. Sedangkan produksi dalam negeri hanya mampu 6,5 juta ton per tahun. Kekurangan sekitar 1,7 juta ton per tahun harus diimport dari negara lain. Karena itu, katanya, petani di Sumba Timur bisa menangkap ini sebagai peluang.

Sementara para petani mengaku khawatir dengan ditetapkannya PT Ade Agro Industri sebagai mitra tunggal IFC SADi justeru akan terjadi monopoli pasar dan merugikan petani. Namun Hermansyah mengatakan, pihaknya akan memonitor langsung harga yang ada di setiap daerah, termasuk Sumba Timur.

Petani, juga katanya, bisa mengetahui perkembangan harga jagung seluruh daerah di Indonesia melalui handphone dengan mengetik IFC (Spasi) Jagung kirim ke 9165 untuk Telkomsel dan 9168 untuk operator lain. Dengan mengetahui perkembangan jagung di daerah lain, petani mempunyai pilihan pasar.

General Manager PT Ade Agro Industri, Johny Wahyudi, juga mengatakan hal yang sama. Johny mengatakan, yang berhubungan dengan petani bukan PT Ade Agro Industri tetapi koperasi yang anggotanya adalah masyarakat setempat. Ia mengatakan, manajemen PT Ade Agro Industri cukup terbuka. Jadi, petani silahkan berkomunikasi dengan daerah lain. Jika harga jagung di daerah lain lebih tinggi dari Koperasi PT Ade Agro Industri, kata Johny, petani boleh memilih yang lebih menguntungkan.*