Oleh: Yan Meko

DATARAN GERSANG dengan rumput kering terbentang luas di pantai utara Pulau Timor. Di beberapa bagian dataran tampak beberapa bukit dengan sedikit pohon dan semak belukar yang agak hijau. Sekilas kawasan itu tampak berwarna seperti seragam loreng militer : kuning, hijau dan coklat kehitam-hitaman.
Itulah pemandangan bulan November di daerah pantai utara kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang juga merupakan daerah batas negara Indonesia dengan sepotong wilayah Timor Leste yang bernama Oecusi. Pemandangan yang lumrah di pulau Timor dan beberapa pulau lain di NTT ketika dipanggang matahari musim kemarau.
Dari puncak sebuah bukit, di antara pemukiman warga, seorang bocah perempuan sembilan tahunan tertatih mengikuti langkah kedua orang tuanya menuruni jalan berbatu. Kaki bocah yang tanpa alas sandal itu sesekali digerakkan lebih cepat menghindari sengatan panas bumi yang dipijaknya. Tangan bocah berambut ikal itu memegang sebuah kemasan plastik yang berisi air minum. Bocah itu oleh ayahnya dipanggil dengan nama Lia.
Lia hari itu seharusnya duduk manis di bangku sekolah. Namun, pada hari Kamis, 8 November 2007 itu dia terpaksa memilih meliburkan diri untuk bergabung bersama orang tuanya mencari sesuatu untuk mempertahankan hidup.
Arah perjalanan Lia sekeluarga menuju selatan, tempat pohon-pohon gewang, sejenis palma yang banyak tumbuh liar di daratan Timor. Peralatan yang dibawa ayah Lia seperti kapak dan parang menandakan keluarga itu akan menebang pohon.
“Kami mau ke daerah sebelah, mau menebang pohon gewang. Mengambil putak untuk dijadikan makanan, “ujar Ayah Lia, Blasius Kolo.. Berapa tahun terakhir ini penduduk kawasan itu selalu gagal panen karena hujan jarang dan kemarau panjang. Padi sawah juga gagal tumbuh karena debit air sungai turun drastis, saluran irigasi kering. Tapi manusia harus bertahan hidup. Putak, serat batang gewang, yang biasanya untuk makanan babi, diolah menjadi tepung kasar untuk makanan manusia.
“Sejak lima tahun lalu ketika memasuki bulan November hingga Maret kami warga sekitar daerah pantai selalu berbondong-bondong menebang gewang untuk mendapatkan putak. Dulu pohon gewang yang tumbuh liar bisa ditebang siapa saja.Tapi sekarang pohon gewang harus dibeli dari pemiliknya dengan cara barter. Sebatang pohon gewang ditukar dengan anak babi berumur lima atau enam bulan,”tutur Blasius.
Daerah pantai utara kabupaten TTU dihuni enam suku yakni tiga suku asli setempat (Naibenu, Insana, Biboki) dan tiga suku pendatang (Rote, Sabu dan Belu).Secara administratif kawasan pantai ini terletak dalam wilayah dua kecamatan yakni Insana Utara dan Biboki Anleu.
Wilayah ini pada era 1980-an cukup terkenal dengan ranch sapi Australia (PT. Timlico) dan lumbung beras yang lumayan bagi daerah sekitar. Kini malah berubah menjadi kawasan yang menderita kurang pangan. Sejak 17 tahun lalu PT. Timlico gulung tikar, boss-nya Mr. Hendrik kembali ke negara asalnya, Australia. Sementara areal sawah pantai utara seluas 3.670 ha dan ladang seluas 2.632 ha, produktivitasnya terus menurun, bahkan akhirnya tidak berfungsi sama sekali karena ketiadaan air akibat hujan jarang turun disambung kemarau yang berkepanjangan.
Tinggalkan Pertanian, Kerja Serabutan
Perubahan iklim yang tidak dapat diperkirakan masyarakat awam, berdampak pada perubahan aktivitas warga. Banyak petani dan peternak terpaksa banting stir, beralih menjadi nelayan yang dengan perahu sederhana atau menjadi tukang ojek dan pedagang lintas-batas ilegal lewat jalan-jalan tikus ke Oecusi. Distrik Oecusi adalah bagian dari bekas jajahan Portugal yang berintegrasi dengan Indonesia, menjadi provinsi Timor Timur, tapi kemudian memisahkan diri menjadi negara sendiri, Timor Leste, melalui penentuan pendapat di bawah pengawasan PBB..
Mereka yang menjadi nelayan hanya mengandalkan sampan-sampan kecil yang panjangnya berkisar 3 – 5 meter dan lebar 40-60 cm. Dengan sampan sekecil itu warga hanya bisa memancing atau menebar pukat tembang di perairan dangkal. Penghasilannya tergantung nasib atau kemurahan laut. Terkadang semalam bisa mendapat tangkapan ikan sebanyak satu atau dua ember atau sebaliknya pulang dengan tangan kosong. Bantuan 10 unit kapal lampara dari Pemerintah Daerah Kabupaten TTU tidak begitu membantu perubahan pada kehidupan warga pesisir, karena kapal-kapal tersebut merupakan kapal kontrak seharga Rp. 30 juta pertahun.
“Saya terpaksa meninggalkan pekerjaan sebagai petani peternak karena tiap tahun selalu gagal panen. Kadang tanaman pertanian rusak karena kebanyakan hujan, atau sebaliknya padi dan jagung mati kekeringan kalau hujan jarang turun dan kemarau panjang,” ujar Zakarias Sila mengisahkan upayanya meninggalkan pertanian dan mengadu nasib di laut. Kini dia bersama sembilan warga lainnya mengontrak sebuah kapal lampara milik Pemda TTU.
” Harapan kami, kehadiran kapal tersebut dapat mengubah kehidupan kami tetapi ternyata faktanya tidak demikian. Rumah saya tetap berdinding bebak (pelepah pohon gewang). Sebelumnya saya punya sampan kecil dan menjaring tiap hari di sekitar perairan ini. Penghasilan antara sampan kecil dan kapal lampara tidak ada bedanya, hanya cukup untuk makan sekeluarga. Nilai kontrak kapal lampara mencapai Rp. 30 juta pertahun, bagi kami terlalu mahal. Sudah dua tahun ini kami kerja hanya untuk setor kepada Pemda TTU,” cerita Zakarias. Lebih lanjut.
Sebagian warga tidak menyia-yiakan kesempatan tinggal di batas negara. Mereka menjadi pedagang sembako kecil-kecilan melewati jalan-jalan tikus kendati taruhannya adalah fisik bahkan nyawa apabila kepergok aparat batas kedua negara. Tetapi warga pesisir Pantai Utara yang dihuni oleh 4.360 Kepala Keluarga (KK) atau 19.684 jiwa tampaknya tidak banyak pilihan lain. Sejumlah warga terus menyelundupkan sembako dan BBM secara kecil-kecilan ke Oecusi, enclave Timor Leste di wilayah Timor Barat. Bagi mereka jalan tikus adalah jalan kemanusiaan untuk hidup.
“Saya tinggal tepat di garis batas. Sebagai petani kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena kemarau yang panjang. Daripada mati lapar lebih baik saya berdagang barang-barang kebutuhan pokok secara kecil-kecilan ke Oecusi.. Apalagi hampir setiap minggu saya melihat empat-lima truk membawa berbagai jenis barang dan juga mobil tangki BBM menuju Oecusi,” cerita seorang pria lain yang memohon indentitasnya tidak dipublikasikan.
Mengumpulkan Putak
Di kejauhan terdengar bunyi kapak bertalu-talu., sesekali terdengar dentuman keras sebagai tanda pohon-pohon gewang telah tumbang ke bumi yang kering.. Asap putih di beberapa titik membubung tinggi d iantara gerombol pohon-pohon gewang.Tampaknya warga langsung melakukan proses pengasapan putak di tempat penebangan.
Hari itu keluarga Lia bersama delapan keluarga lainnya menebang pohon gewang untuk mengumpulkan putak di tempat yang sama. Lia, si bocah kecil nampak cekatan mengumpulkan hasil cincangan putak dan memasukkan ke sebuah bakul lalu membawanya sekitar 30 meter ke sebuah para-para yang telah dibangun sebelumnya. Di bawah para-para setinggi satusetangah meter itu dipasang api yang lebih banyak diberi dedaunan segar untuk memperbanyak asap. Ibu bocah itu yang mengontrol asap pada para-para, sesekali menerima bakul kecil dari tangan Lia dan menumpahkan isinya di atas para-para.
Matahari sudah meninggi. Keluarga Lia berhenti sejenak untuk makan siang di bawah bayangan pohon gewang. Ibu Lia membuka kemasan kumal yang sebelumnya digantung pada sebatang pohon kering. Isinya makanan sangat sederhana orang Timor: jagung katemak (biji utuh) dicampur kacang-kacangan dan beberapa ekor ikan kering . Itulah pengganjal perut keluarga Lia di siang itu.
Serat gewang atau putak dicicang untuk dijadikan tepung dan kemudian diolah menjadi makanan. Putak sengaja dijemur dan diasapi langsung di tempat penebangan untuk mengurangi beratnya dan mempercepat proses kering. Sedangkan batangan pohon gewang yang dipotong sepanjang sekitar 80 cm untuk makanan ternak karena seratnya lebih keras. “Babi atau sapi kalau diberi makan putak akan lebih gemuk dan lebih berat. Jadi satu pohon putak tidak semuanya dijadikan makanan manusia, tetapi kami pisahkan bagian yang keras untuk makanan ternak,” Kolo menjelaskan, seusai makan siang.
Matahari sudah mulai condong ke barat. Tiupan angin kering menggoyang daun-daun gewang. Para penebang pohon gewang bergegas menyelesaikan pembersihan serat putak. Cincangan serat putak yang diasapi belum juga mongering kendati dibantu panas matahari. Gelondongan pohon putak yang terlihat bagai drum ukuran kecil, pada kedua sisinya di paku dengan dua buah batang kayu sebesar ibu jari kaki. Batangan kayu itu diikatkan dengan tali gewang untuk kemudian ditarik, bergulir seperti roda stomwals menuju ke kandang ternak warga.
Gewang & Adaptasi Perubahan Iklim
Malam semakin merayap, keluarga Lia sudah kembali sampai rumah di Kelurahan Ponu, Kecamatan Biboki Anleu. Di rumah, Lia bersama ibunya bergegas ke dapur dan mencincang lagi beberapa batang putak untuk kemudian direbus untuk langsung bisa dimakan.
Ternyata serat putak juga dapat dimakan langsung tanpa diolah jadi tepung. Batangan putak yang dipotong kecil-kecil berukuran 25×10 cm itu bisa langsung direbus dengan daun asam muda sebagai penyedap..
Setelah matang, potongan-potongan kecil putak ditiriskan lalu dapat dimakan langsung bagi yang warga yang masih bergigi kuat. Sementara warga yang sudah tua dan ompong harus menggunakan batu titih untuk membuat potongan putak menjadi pipih. Daging kelapa bisa menjadi pelengkap makan putak. Malam itu keluarga Lia yang berjumlah tujuh orang menjadikan serat-serat pohon gewang menjadi hidangan malam penghantar mimpi.
Cincangan putak yang telah diasapi harus terus dijemur lagi selama dua atau tiga hari hingga kering. Cincangan putak ini kemudian ditumbuk untuk diambil tepungnya dan diolah jadi makanan yang oleh penduduk daerah setempat disebut Put laka (tepung putak yang dicampur dengan parutan kelapa), lalu dibakar di tungku selama dua atau tiga menit menggunakan media khusus yang terbuat dari tanah liat.
Tahun demi tahun telah berlalu. Sudah hampir 17 tahun warga pantai utara TTU mengalami bencana demi bencana kesulitan pangan akibat musim hujan pendek dengan curah hujan yang rendah serta kemarau yang kering dan panjang. Daerah itu yang pernah dikenal sebagai penghasil beras dan ternak sapi, kini hanya tinggal kenangan. Mungkin lantaran eksplotiasi alam yang tidak seimbang, belum lagi dampak perubahan iklim global..
Pemanasan global dan perubahan iklim telah memaksa ribuan warga yang bermukim kawasan pantai utara TTU harus menyiasati hidup. Berhari-hari makan putak dengan kelapa tanpa sayur atau lauk lainnya dapat mengakibatkan kurang gizi. Daya tahan tubuh lemah, penyakit-penyakit lain mudah menyerang.
Lia si bocah berumur sembilan tahun itu bersama tiga adiknya harus bertahan hidup dengan putak. Hari ini makan putak. Besok makan putak. Tahun depan, kalau masih ada umur, mungkin masih harus juga makan putak ditemani parutan kelapa.
Putak dari gewang adalah anugerah alam Timor. Ketika berbagai jenis pohon lain sulit bertahan terhadap iklim Timor yang kering, pohon gewang tegar berdiri siap memberikan karbohidrat bagi manusia dan ternak orang-orang Timor yang gagal panen jagung, padi dan kacang-kacangan akibat musim hujan yang pendek disambung kemarau panjang yang kering.
Menurut penelitian para ilmuwan yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), padi dan tanaman pangan biji-bijian lainnya termasuk yang rentan terhadap perubahan iklim. Bagian reproduktif tanaman-tanaman pangan itu yang disebut spikelet akan menjadi steril bila suhu meningkat, sehingga mempengaruhi produktivitasnya. Jadi pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim selain mempengaruhi ketersediaan air ,bagi tanaman pangan, juga menyebabkan tanaman yang masih bertahan hidup pun tidak produktif. Timor yang sejak dulu dikenal sebagai wilayah kering, mungkin seharusnya tidak perlu terlalu mengandalkan sawah sebagai penghasil pangan. Daerah-daerah lahan basah di Jawa saja makin sering mengalami gagal panen padi akibat kekeringan.
Mungkin masyarakat Timor yang terpaksa makan putak harus bisa mengembangkan variasi makanan baru dari serat batang gewang itu agar lebih menyehatkan. Putak dari pohong gewang mungkin tak beda dengan tepung sagu dari pohon sagu di Maluku dan Papua yang menjadi makanan yang menyehatkan dengan aneka lauk sayur, ikan, daging dan pengolahan yang bervariasi. Atau mungkin pula bekas petani jagung dan beras yang menjadi pengumpul putak pohon gewang harus mengembangkan jenis-jenis tanaman pertanian baru yang lebih cocok dengan iklim Timor yang tampaknya semakin tidak ramah.
Melihat cara sederhana orang Timor beralih ke putak, serat batang gewang, ketika tanaman padi dan jagung gagal, tampaknya ini merupakan cara adaptasi sederhana menghadapi perubahan iklim. Gewang yang tumbuh liar di Timor termasuk jenis pohon yang paling tegar menghadapi iklim yang kering dan panas hampir sepanjang tahun. ” Pohon gewang harus mulai dibudidayakan bersama beberapa pohon pangan lainnya yang cocok dengan iklim dan alam Timor. Gewang dan sukun, misalnya, sangat cocok diintensifkan untuk membantu ketahanan pangan masyarakat Timor,”ujar Bambang Subagyo, Manajer Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Plan Indonesia kepada penulis.
Dia menambahkan, pemerintah daerah di Timor seharusnya menjadikan bencana hama belalang, gagal panen dan banyaknya kasus busung lapar sebagai indikator untuk menyiasati masalah pangan rakyat di wilayah ini.
“LSM siap membantu mencerahkan warga dalam kaitan dengan pengelolaan berbagai menu makanan berbahan baku putak atau bahan lain nonberas dan nonjagung,”ujar Bambang, yang melihat pentingnya langkah-langkah adaptasi menghadapi perubahan iklim, terutama di sektor pertanian di Timor.