Oleh: Christianto, Pendapat pribadi.

Sebagai pendatang yang tinggal di Propinsi NTT per Januari 2008 lalu, sungguh wajar jika saya digelayuti perasaan asing oleh kebaruan suasana yang saya lihat, dengar dan rasakan. Seiring waktu, sedikit demi sedikit saya mulai mengakrabi provinsi NTT dengan segala keindahan budaya dan alamnya, tak dipungkiri bahwa saya juga telah jatuh hati dengan penduduknya. Saya jatuh hati dengan lambaian tangan anak-anak sekolah yang bertelanjang kaki berjalan sepulang sekolah di jalan berbatu dan berdebu, senyum mengembang penduduk desa atau nona-nona yang tertunduk malu ketika berpapasan dengan saya di kawasan perdesaan. Sejenak saya terkesiap melihat kemolekan tersembunyi dibalik atribut tertinggal, termiskin, gizi buruk, terkorup atau plesetan “Nasib Tak Tentu” atau “Nanti Tuhan Tolong”. Sungguh disayangkan lagi ketika putra-putri daerah mengamini kemelekatan it, seolah pesimis atas masa depan bumi pertiwi NTT. Semua terangkum dalam istilah “periferal” oleh Graeme Hugo (Jakarta, Juni 1994). Periferal adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu periphery (noun) dan peripheral (adjective), artinya external boundary or surface (Oxford Advenced Learner’s Dictionary of Current English, AS Hornby). Atau dalam KBBI edisi kedua (1996) kita mendapati tiga bentuk kata periferal yaitu (1) perifer yang berarti terletak di tepi, jauh dari pusat (2) periferal diartikan tidak mengenai pokoknya, kurang penting dan (3) periferi berarti batas luar suatu lingkaran, batas luar suatu permukaan rata, lingkungan sekitar suatu benda (Periferal, Drs. Willem B. Berbie).

Sebagai orang yang dibesarkan dalam budaya jawa, sejenak saya teringat pada ungkapan tatas, tutus, titis, titi lan wibawa atau mendasar, totalitas, visi, ketelitian, dan wibawa. Ungkapan tersebut pernah terucap oleh almarhum Kakek ketika bertutur tentang bagaimana kita sebaiknya memandang hidup. Menilik semua atribut bernuansa ketidakberdayaan NTT, saya bertanya dalam hati, bagaimana generasi NTT dapat memandang hidup ketika generasi demi generasi dicekoki dengan dongeng-dongeng yang melemahkan. Perlahan namun pasti, dongeng melemahkan yang selama ini berkembang akan membentuk karakter generasi NTT untuk mengamini hal negatif menjadi lumrah. Terus terang saya merasa gelisah dengan kemelekatan yang kurang adil terhadap NTT dan mari kita sudahi dengan menggeliatkan kecantikan membentang bumi pertiwi NTT mulai dari potensi pertanian, kehutanan, peternakan, pariwisata, dan kelautan di sebaran lebih dari 566 pulau. Statistik menyatakan bahwa NTT memiliki potensi penunjang pembangunan daerah yang menjanjikan, sebut saja potensi lahan basah 127.271 ha, potensi lahan kering 1.528.306 ha, padang penggembalaan seluas lebih dari sejuta hektar.
Impian Nusa Tani Terpadu
Masih dalam perhitungan data statistik, lebih dari 70 % penduduk NTT berprofesi sebagai Petani. Hal ini dikuatkan dengan potensi pertanian yang telah dijelaskan sebelumnya. Dari jenis komoditi misalnya rumput laut, kacang merah, mente, kopi, jeruk atau sapi memiliki kekhasan, baik di tingkat Nasional maupun Internasional. Sementara, kondisi pertanian di wilayah lain terutama di wilayah Jawa kini mengalami kemunduran, mulai dari beralih fungsinya lahan pertanian, penurunan kualitas hara lahan dan pencemaran lingkungan yang semuanya berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas produksi pertanian. Secara geografis, posisi NTT yang berbatasan dengan Negara lain seperti Australia dan Timor-Timur juga menjadi salah satu peluang. Di masa depan, NTT dipastikan mampu bangkit untuk merajut impian, bermetamorfosis menjadi “Nusa Tani Terpadu”.
Dalam proses mewujudkan impian Nusa Tani Terpadu, program pembangunan sebaiknya diorientasikan pada tujuan insani yang lebih luas,. Tujuan luas yang dimaksud dapat dicontohkan dari ungkapan Rabindranath Tagore, ” adalah sempurnanya hidup yang membuat orang berbahagia, bukan saja penuhnya dompet” atau ungkapan lain seperti “mewujudkan insan berdaya dan berkeadilan” atau “membebaskan jiwa manusia”. Tujuan insani yang dirumuskan diharapkan menjadi “mercu suar” bagi “kapal-kapal” pembangunan, baik yang berasal dari bendera pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil (LSM, lembaga pendidikan, kelompok agama, atau kelompok tani atau masyrakat pada umumnya). Tujuan insani yang tidak berorientasi pada kepentingan sesaat para Pejabat setempat untuk menggelembungkan kekayaan atau melanggengkan kekuasaan absolut melalui proyek-proyek pembangunan pertanian. Memang, ketika dihadapkan pada tujuan insani yang abstrak ini banyak pihak mungkin sumir karena merasa belum berkepentingan. Bahwa ada hal yang lebih mendesak dan harus dilakukan, begitu pembenarannya, misalnya ketika harga BBM naik, busung lapar, dan lainnya. Namun jika tujuan luas ini dibiarkan tak terumuskan dalam waktu lama, tujuan ini juga tak akan dijadikan spirit bagi semua pihak untuk keluar dari akar persoalan yang selama ini menghimpit masyarakat. Bukankah semua mendambakan metamorfosis NTT dimana masyarakatnya tersenyum lebih lepas dalam kemadirian, berjalan tegap tanpa merengek tak punya pekerjaan, bergiat maju dalam kekayaan ilmu, dan serempak meneriakkan …. eureka dalam sebuah tatanan masyarakat yang berdaya dan berkeadilan !!!
SEMANGAT, sebuah kata yang bersifat menggugah, dikenal juga dengan istilah lain yaitu kegigihan, komitmen, daya juang bahkan hasrat cinta untuk menebar karya mencapai tujuan. Menebarkan semangat merupkan salah satu jalan yang masuk akal di tengah krisis keteladanan dan krisis kepercayaan di masyarakat atas pilar-pilar pembangunan. Semangat yang ditawarkan untuk menuju Nusa Tani Terpadu adalah semangat untuk memecahkan permasalahan, semangat untuk memulai dari hal yang paling kecil dengan cara yang besar, dan semangat untuk mau terlibat serta menjalin kemitraan dalam proses pembangunan. Semangat dapat diwujudkan dengan memberikan kebebasan untuk menggali rencana pembangunan masyarakat di akar rumput secara partisipatif, memberikan kebebasan untuk berdaya cipta, mengembangkan jaringan dalam suasana setia kawan dan saling mendukung, semangat untuk belajar dalam prinsip “semua guru semua murid”, semangat untuk saling memberikan apresiasi terhadap kemenangan-kemenangan kecil yang dilakukan oleh segenap elemen pembangunan kota, termasuk didalamnya adalah kelompok-kelompok tani. Terlebih, semangat untuk melayani dan berkatya dalam kerendahan hati masing-masing Dinas untuk duduk bersama dan berdialog, menanggalkan ego sektoral, berebut “potongan kue pembangunan” yang seharusnya menjadi hak masyarakat.
Dalam laporan utama Pos Kupang Februari 2008 (Alfons Nedabang dan Agus Sape), diungkap bahwa pada tahun 2007 Propinsi NTT mengelola dana lebih kurang 10 triliun dan untuk tahun anggaran 2008 naik lebih dari 11 triliun. Belum termasuk dana dari pihak ketiga dari LSM internasional dan beberapa badan dibawah badan perserikatan bangsa-bangsa. Besar anggaran, menurut saya bukanlah indikator yang bersifat tunggal dalam sebuah proses pembangunan berkelanjutan. Cukup banyak contoh, salah satunya ketika saya berkesempatan melakukan lawatan ke Hiroshima-Jepang yang dahulu luluh lantak oleh bom atom, yang kemudian kini beralih menjadi mega kota yang modern. Saya disadarkan kembali dengan ungkapan dhuwur wekasane endek wiwitane (untuk menjadi teratas tentu dimulai dari dasar, berawal dari yang kecil). Melihat pertumbuhan sector agribisnis yang masih belum mendukung, alangkah bijak jika strategi anggaran pembangunan wilayah NTT dirampingkan untuk pengembangan model percontohan yang tak memerlukan biaya besar, memiliki tingkat resiko kegagalan yang relatif kecil dan lebih mengakar pada kelompok sasaran pembangunan. Model tersebut ditempuh untuk memberikan kemenangan-kemenangan kecil bagi masyarakat Petani sehingga menumbuhkan kepercayaan diri untuk menggarap program-prograam pertanian yang lebih kompleks. Selain itu, pengembangan model tersebut dilakukan sebagai media untuk melakukan konsolidsi dan pengorganisasian masyarakat Petani dalam skala yang lebih luas. APBD idealnya lebih diprioritaskan untuk pendanaan sektor strategis seperti irigasi, perbaikan dan pembuatan jalan produksi tani, pengembangan listrik perdesaan, pelabuhan, bandara, sekolah tani dll yang mampu menggenjot sektor riil dan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat . Alangkah berbahagia jika Pemerintah NTT mampu melakukan efisiensi dan memangkasan alokasi dana yang kurang penting seperti perjalanan dinas keluar daerah, studi banding, insentip untuk para pejabat dan anggota DPRD, mengoptimalkan sarana dinas yang ada dan mengurangi pembelian alat-alat kantor yang kurang mendesak . Pengembangan infrastruktur yang telah dilaksanakan seperti pelabuhan peti kemas Tenau dan tersedianya penerbangan regular dari berbagai daerah ke Kupang dan dari Kupang ke Lombok, Denpasar maupun Surabaya atau bahkan Australia sebaiknya menjadi ancang-ancang bagi pengembangan ekonomi rakyat dan didaya gunakan secara optimal melalui peningkatan produksi hasil pertanian dan kelautan, kerajinan rakyat.
Sebuah pengembangan agrobisnis tak bisa dilepaskan dari penggunaan teknologi untuk memacu pertumbuhan produksi. Namun kenyataannya ketika ragam inovasi tersebut sampai di tangan Petani bukanlah membantu mereka namun berujung pada “kegagalan”. Ketika saya melakukan lawatan di beberapa desa di Kab. TTS, saya banyak melihat mesin pencacah sampah organik untuk proses pengomposan masih tersimpan rapi dengan pembungkusnya selama kurun waktu hampir setahun. Menurut pengakuan warga Desa, mesin pencacah tersebut merupakan bantuan dari Kabupaten TTS kepada setiap Desa. Fakta lainnya adalah pembuatan embung di setiap desa pada wilayah yang sama, keberadaan embung tersebut kini disinyalir menjadi salah satu penyebab terjadinya peningkatan penyakit demam berdarah. Sebuah inovasi teknologi dalam bidang pertanian tidak seharusnya berdiri sendiri, namun harus didukung oleh kesiapan sosial dari sang pengguna inovasi -masyarakat petani-. Konsepsi teknologi yang didukung oleh kesiapan sosial melalui pengorganisasian sosial tersebut berkembang dengan istilah “teknososial”. Konsepsi teknososial mengharapkan pengambil kebijakan program pertanian untuk lebih arif dengan mengembangkan “sapta pertanyaan” sebagai berikut : 1) apakah teknologi memenuhi kebutuhan dasar yang dirasakan petani?, 2) apakah secara finansial menguntungkan; 3) apakah teknologinya mendatangkan keberhasilan nyata dalam waktu singkat? 4) apakah teknologi yang digagas sesuai dengan pola pertanian setempat; 5) Apakah teknologinya diterima secara budaya?; 6) apakah teknologinya padat karya atau padat modal?; 7) Apakah teknologinya mudah dipahami/sederhana?; 8) apakah teknologinya sudah mendayagunakan sumber daya yang dimiliki oleh petani?.
Pengembangan NTT sebagai Nusa Tani Terpadu sebaiknya dilakukan secara terpadu sejak dari hulu sampai hilir. Konsepsi ini mewajibkan pengambil kebijakan untuk tidak hanya mandeg pada kecukupan input tani atau pengembangan teknik budidaya atau pasca panen semata. Lebih dari itu adalah pengembangan jaringan distribusi dan pemasaran yang selama ini menjadi persoalan klasik Petani. Inovasi semacam one village one product, sistem penjualan bersama, pengembangan pasar lelang bagi petani, online marketing, SMS harga komoditas sebaiknya sudah mulai diinisiasi oleh Pemerintah bekerjasama dengan pemangku kepentingan di Universitas, LSM, Kelompok Tani dan sektor swasta.
Pada akhirnya, pengembangan NTT sebagai Nusa Tani Terpadu idealnya juga memadukan tiga pilar kekuatan pembangunan melalui sinergi antara Masyarakat Sipil, Pemerintah dan Sektor swasta. Mazhab sosial yang digagas oleh Anthony Giddens dalam bukunya “The Third Way” (Jalan Ketiga) memang memaksa kita untuk mengintegrasikan tiga pendulum kekuasaan tersebut duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Masa depan NTT yang lebih adil dan sejahtera sangat bergantung pada perimbangan kekuasaan antara tiga pilar kekuasaan tersebut. Jika dahulu persolan demokratisasi hanya melulu bicara tentang kesalahan pihak Pemerintah, namun kini pendulum itu menjadi meluas. Dalam konsepsi giddens, Pemerintah diharapkan mampu menjadi wasit dan fasilitator yang bijak, sektor swasta diharapkan memiliki kepedulian sesuai dengan konsepsi CSR (corporate social responsibility), dan masyarakat sipil diharapkan dapat memberikan karya sesuai dengan kewajibannya sebagai warga negara. Semua pihak didorong untuk menghasilkan kesepakatan-kesepakatan perdagangan yang adil.

*Tulisan ini dipersembahkan kepada sahabat saya, Sdr. Yakob Tefni Nuban, Fasilitator Kecamatan Program PNPM Agribisnis Perdesaan, yang wafat pada tanggal 14 Februari 2008 lalu dalam sebuah kecelakaan ketika menjalankan tugas sebagai pendamping Petani di Kec. Amanuban Selatan, Kab. TTS.