Istilah pemberdayaan (empowerment) sebenarnya sudah popular di kalangan Lembaga Masyarakat (LSM) di Indonesia sudah sekitar 3 dekade yang lalu. Setidaknya pada awal tahun 80-an sudah mulai banyak dipergunakan oleh kalangan LSM apalagi yang bergiat di bidang Pengembanagn Masyarakat. Waktu itu teman-teman di birokrasi lebih banyak menggunakan dan mengenal dengan istilah pembinaan dalam konteks program yang hampir sama pada kelompok sasaran (target group) masyarakat paling bawah (grass rot) misalnya PPL Pertanian PLKB, dll. Kedua terminologi tersebut jelas sangat berbeda maknanya walaupun mengandung beberapa kesamaan di dalam implementasinya.

Pembinaan mengandung makna bahwa ada yang membina dan ada yang dibina. Yang membina seolah-olah memiliki kemampuan yang lebih dari yang dibina. Sedangkan yang dibina sebaliknya memeliki kemampuan kurang dari yang dibina. Hal ini menunjukkan adanya hubungan atas bawah. Yang membina berada lebih tinggi atau diatas dari yang dibina atau sebaliknya yang dibina berada di bawah yang membina. Hal inilah yang kemudian membuat teman-teman dari kalangan LSM alergi jangankan menggunakan baru mendengar saja sudah tidak suka. Pada awal tahun 90-an tepatnya sejak dikeluarkannya Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) mulailah bermunculan penggunaan istilah pendampingan. Perjuangan teman-teman LSM cukup berhasil sehingga buku-buku dan materi pelatihan untuk program IDT banyak menggunakan istilah pendampingan dan tidak lagi menggunakan istilah pembinaan. Lebih dari itu para petugas (“pembina”) yang membina masyarakat penerima program IDT tidak lagi disebut sebagai Pembina tetapi disebut dengan pendamping. Oleh sebab itu para pendamping yang berijasah sarjana disebut sebagai Sarjana Pendamping Purna Waktu (SP2W). Sejak saat itulah maka terminologi pendampingan dan pendamping mulai diterima dan dipergunakan di kalangan birokrasi. Ketika Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dimulai pada tahun 1998 istilah pendampinganpun dipergunakan.

Terminologi pendampingan sekilas hampir sama dengan pembinaan tetapi pada hakekatnya berbeda dan implikasinyapun akan sangat berbeda. Terminologi pendampingan dan pendamping menunjukkan adanya kesejajaran atau kesetaraan bukan atas bawah. Diantara pendamping dengan masyarakat yang didampingi posisinya sejajar. Disini tidak terkesan pendamping lebih tinggi, lebih hebat, lebih pandai maupun lebih menguasai dari masyarakat yang didampingi. Masyarakat yang didampingi bukan sub-ordinasi dari pendamping. Dengan demikian diantara pendamping dengan masyarakat yang didampingi tidak ada jarak. Terlebih dari itu masyarakat yang didampingi bukanlah obyek atau kelompok yang lemah dan tidak berdaya sehingga harus tergantung kepada pendamping. Dalam bidang tertentu banyak kasus justru menunjukkan bahwa masyarakat yang didampingi jauh lebih tahu lebih pandai dari pada pendamping yang berasal dari luar daerah.

Makna Pemberdayaan (empowerment) dalam wacana yang universal merupakan bagian dari upaya membangun eksistensi pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, pemerintah, negara dan tata dunia di dalam kerangka proses aktualisasi aksistensi kemanusiaan yang adil dan beradab yang terwujud diberbagai medan kehidupan; politik ekonomi, hukum, pendidikan dan sebagainya. Oleh karena itu konsep empowerment pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik didalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional dan berbagai bidang kehidupan.

Pada tataran yang lebih operasional dan berorientasi kemasyarakatan/komunitas, pemberdayaan dapat difahami sebagai upaya yang menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan dilingkungannya melalui pemberian dan pengalihan sebagai kewenangan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar setiap individu menjadi berdaya dengan membangun aset materialnya guna mendukung pembangunan kemampuan diri mereka melalui organisasi (Oakley & Marsden, 1984).

Kecenderungan yang menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan dapat disebut sebagai kecenderungan primer dari makna pemberdayaan. Sedangkan kecenderungan kedua (sekunder) menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialogis.