Menurut David Corten, Pemberdayaan Masyarakat memiliki 3 esensi utama yaitu penyadaran (Conciousness), motivasi atau membangkitkan minat, dan yang ketiga adalah pemberian akses atau resources. Ketiga hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Penyadaran (conciousness)
Banyak pengalaman menunnjukkan bahwa Program Pemberdayaan Masyarakat yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSM ternyata gagal. Misalnya dalam program pengentasan kemiskinan; ada sekelompok msyarakat yang diindikasikan miskin karena penghasilannya dibawah Upah Minimum Regional (UMR) sehingga perlu ditingkatkan ekonominya, pendapatannya. Cara untuk meningkatkan pendapatan bermacam-macam. Misalnya dengan memanfaatkan lahan tidur, menanam tanaman produktif di pekarangannya, diberikan pinjaman lunak untuk usaha mikro, penggunaan tekknologi yang lebih maju dalam usahanya, penggunaan dan pemilihan bibit unggul dsb. Setelah program (baca : Proyek) berjalan satu tahun dan diperpanjang hingga 2 sampai 3 tahun, ternyata masyarakat tetap saja miskin dan tidak ada peningkatan pendapatan yang berarti. Pendapatannya masih di bawah UMR. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena programnya yang tidak bagus? Kurang adanya pendampingan? Setelah dieavaluasi ternyata bukan karena hal-hal tersebut di atas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kacamata miskin yang dipakai masyarakat dengan yang dipakai oleh program berbeda. Hal inilah yang menunjukkan bahwa masyarakat dianggap sebagai obyek. Ternyata masyarakat sama sekali tidak merasa bahwa dirinya miskin sehingga tidak perlu ditingkatkan penghasilannya. Yang mempunyai kemauan untuk ditingkatkan pendapatannya bukan masyarakat melainkan program itu sendiri, atau orang-orang dan institusi penggagas dan pemilik program.

Kemiskinan yang dialami kelompok masyarakat di atas ternyata sudah lama sekali, bertahun-tahun sejak jaman nenek moyang mereka kemiskinan itu sudah ada dan terus semakin lama semakin miskin karena asset lahan yang dimiliki sudah semakin habis dibagi-bagi untuk para keturunannya. Mereka sudah sangat mengenal bahkan terus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada (adaptable). Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya miskin, selama iini mereka biasa saja dengan kehidupannya, masih hidup dan bisa makan kenyang (sesuai ukuran mereka). Walaupun pendidikan terakhirnya hanya sampai Sekolah Dasar, ada juga yang tidak tamat karena dianggap tidak penting dan bahkan membuang-buang uang, waktu dan tenaga. Seharusnya anak-anak mereka bisa pergi ke ladang atau ke hutan untuk membantu orang tua mencari kayu baker, merumput dsb. Kehidupan itu terus dan terus berlangsung hingga anak-anak dewasa dan menikah serta mengikuti dan meneruskan kehidupan orang tuanya.

Ibarat katak dalam tempurung, kehidupan masyarakat di atas yang mereka ketahui hanyalah seperti yang selama ini mereka lakukan dan rasakan. Barangkali teknologi televisi juga tidak dikenal sehingga mereka tidak pernah melihat sisi kehidupan yang lain karena kebetulan mereka juga tidak pernah keluar dari desanya. Akses transportasi, dan informasi juga sangat terbatas. Oleh karena itu mereka merasa enjoy saja, bahagia saja, tidak ada hal yang perlu dirisaukan dengan kehidupannya. Alam yang tersedia di sekitarnya masih mencukupi kebutuhan hidupnya. Apakah ada yang salah, saya kira tidak ada yang salah. Yang ada adalah perbedaan ukuran yang dimiliki. Bagaimanpun juga menurut ukuran dunia (global) jika kondisi kehidupan masyarakatnya seperti tersebut di atas perlu mendapat perhatian supaya mencapai batas ukuran minimal yang dunia kehendaki misalnya menurut Milenium Development Goal’s (MDGs) karena Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya rendah.

Oleh karena itu kelompok masyarakat di atas harus diberdayakan supaya meningkat ukuran kualitas hidupnya. Dalam konteks pemberdayaan maka kelompok masyarakat seperti ini tidak bisa secara tiba-tiba diprogramkan seperti tersebut di depan. Masyarakat ini harus diusik terlebih dahulu kebahagiaanya, kebahagiaan semunya. Setelah diusik kebahagiannya maka mereka baru menyadari bahwa dirinya ternyata memang miskin, perlu meningkatkan dirinya menjadi lebih baik dari yang sekarang alami dan rasakan. Penyadaran akan kondisi dirinya sendiri inilah yang terlebih dahulu dilakukan sebelum ada program –program yang lain. Hal inilah yang merupakan esensi pertama yang harus dilakukan terlebih dahulu dari sebuah upaya pemberdayaan. Bagaimana hal ini dilakukan tidak dibahas di disini karena sudah menyangkut hal teknis. Untuk itu banyak cara bisa dilakukan sesuai dengan kasus dan kondisi masyarakatnya.

Motivasi
Dari kata pemberdayaan mengandung makna bahwa ada yang diberdayakan dan ada yang memberdayakan. Walaupun demikian yang diberdayakan tidak berarti menjadi obyek pemberdaya karena dia akan menggunakan sumber daya yang dimilikinya walaupun sekecil apapun. Sekelompok orang atau masyarakat yang diberdayakan berarti diupayakan dari kurang atau tidak berdaya menjadi berdaya atau lebih berdaya. Orang yang memberdayakan berarti akan membuat atau menjadikan yang tidak berdaya menjadi berdaya. Persoalannya adalah terletak pada orang yang akan diberdayakan apakah dia mau atau tidak mau, persoalan kedua adalah mampu atau tidak mampu. Berdasarkan teori perkembangan bawahan dari dua persoalan pokok di atas akan memungkinkan beberapa kemungkinan lain yaitu mau dan mampu, mau tetapi tidak mampu, tidak mau tetapi mampu, dan yang terakhir adalah tidak mau dan tidak mampu.

Jika kondisi masyarakat menunjukkan sudah mau dan mampu maka tidak perlu lagi dimotivasi atau dibangikitkan minatnya serta kepercayaan dirinya. Tetapi bagi masyarakat yang tidak mau dan tidak mampu inilah yang paling perlu dan harus mendapatkan perhatian dan perjuangan khusus. Namun harus disadari bahwa ketidakmauan sesorang atau masyarakat bukan tanpa sebab. Oleh karena itu harus digali, ditelusuri dan dipelajari dengan saksama sebab-sebab ketidakmauannya tersebut. Bisa saja tidak mau karena tidak mampu, tetapi juga bisa juga tidak mau karena khawatir, curiga, tidak yakin, takut, malas, dsb. Upaya yang harus dilakukan adalah menghilangkan dan membuang jauh-jauh sebab-sebab ketidakmauan tersebut. Disinilah motivasi banyak berperan dan menjadi bagian yang tersulit bagi upaya-upaya pemberdayaan. Banyak kasus terjadi sulit dilakukan karena harus mengubah sesuatu yang sudah membudaya dan mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu bukan pekerjaan yang mudah tetapi memerlukan proses waktu yang panjang serta dinamika yang tinggi.

Kemauan saja belumlah cukup, oleh karena itu kemampuan masyarakat harus ditingkatkan. Meningkatkan kemampuan (capacity building) relatif jauh lebih mudah ketimbang meningkatkan kemauan. Ada pepatah “orang bodoh tetapi rajin” akan lebih berhasil dari pada “orang pintar tetapi malas”. Tetapi pepatah ini mungkin tidak selalu benar, namun yang terpenting bahwa kemauan dan kemampuan sangat mempengaruhi minat, motivasi dan kepercayaan diri dari seseorang/masyarakat untuk melakukan sesuatu. Apabila ada minat yang dibangun dari kemauan dan kemampuan tersebut terjadi maka harus dipertahankan jangan sampai menurun. Oleh karena itu program-program pengembangan kemauan dan kemampuan hendaknya terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Biasanya kemampuan dan ketrampilan lebih mudah dan lebih cepat menurun. Namun ada kalanya motivasi kerja seseorang secara mendadak juga menurun drastis karena kecewa atau sebab lain. Oleh sebab itu motivasi harus tetap stabil untuk itu perlu dijaga secara terus menerus dan konsisten.

Akses
Pemberian akses dimaksudkan untuk mempermudah dan mempercepat upaya pemberdayaan. Setelah menyadari akan kondisi dirinya dan motivasi juga sudah ditumbuhkan maka akses harus dibuka dan diberikan. Dengan bermodalkan kesadaran diri akan kondisi, tanggung jawab, cita-cita dsb didukung oleh semangat dan motivasi untuk mengubah kondisinnya maka diperlukan sejumlah sumberdaya (resources). Sumberdaya bisa dihimpun dari diri sendiri, bisa juga diperoleh dari luar. Dalam banyak kasus sumber daya yang ada di dalam diri sendiri sangat terbatas atau tidak dipahami sebagai sumber daya sendiri. Dalam kasus adanya keterbatasan sumber daya dari dalam diri sendiri maka harus didukung dengan sumber daya dari luar. Sedangkan bila yang terjadi adalah ketidaktahuan akan sumberdaya yang dimiliki maka proses penyadaran diri untuk memahami sumber daya yang dimiliki mutlak harus dilakukan juga.

Bentuk-bentuk dan macam akses atau sumber daya sangat banyak. Dapat berupa informasi, pengetahuan, ketrampilan, dana, sarana dan prasarana, infra struktur, suprastruktur dsb sesuai kebutuhan masing-masing.

Upaya Pemberdayaan Masyarakat
Upaya pemberdayaan pada tataran implementasi akan dipengaruhi secara signifikan oleh perkembangan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Berdasarkan Kajian Korten (1988) terhadap peran Lembaga Swadaya Masyarakat (Non Goverment Organization / NGO) dalam upaya pengembangan masyarakat, maka ditinjau dari perjalanan perkembangan masyarakat Indonesia, pemberdayaan dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu antara lain :
Tahap 1: Relief and welfare, yaitu dengan berusaha untuk segera memenuhi kekurangan atau kebutuhan tertentu yang dialami institusi atau keluarga, seperti kebutuhan makanan, kesehatan dan pendidikan. Secara umum pendekatan ini sejak dilakukan pada sekitar desa warsa 1970 an.
Tahap 2: Small scale self relian local development, atau disebut juga community development yang antara lain meliputi pelayanan kesehatan, penerapan teknologi tepat guna dan pembangunan infrastruktur, pendekatan ini mulai berkembang setelah tahun 70-an.
Tahap 3: Sustainable system development, yaitu pemberdayaan yang mulai memikirkan keberkelanajutan program dan dampak-dampak pembangunan serta cenderung melihat jauh keluar wilayah baik regional, nasional atau internaional.
Tahap 4: Gerakan masyarakat (people’s movement), yaitu pemberdayaan dengan pendekatan memberikan bantuan kepada masyarakat untuk mengorganisasikan diri, mengidentifikasi kebutuhan lokal dan mobilisasi sumber daya yang ada pada mereka.

Berdasarkan beberapa tahap pemberdayaan tersebut, maka upaya memberdayakan masyarakat dapat dilakukan dengan cara :
1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang,
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat dengan menerapkan langkah-langkah nyata.
3. Memberdayakan masyarakat dalam arti melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah.

Upaya pemberdayaan pada tingkat komunitas dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
1. Memperkuat mobilisasi partisipasi melalui pembentukan dan atau penguatan organisasi komunitas (local)
2. Menciptakan dan mendorong efektifitas pemberlakuan dan pelaksanaan aturan berdasarkan konsesus masyarakat
3. Pengembangan sumberdaya lokal baik SDM maupun SDA sebagai modal alternatif pembengunan melalui prinsip keswadayaan.