Ditulis oleh Hans, Rabu, 30 Juli 2008 23:17
Dati Nawastuti Lewoema, S.Pt.

Kabar kedatangan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad ke NTT laksana membawa berjuta rencana dan mimpi. Seperti menyambut kedatangan Jathropa tahun 2006 lalu, proyek mulai dirancang, lahan disiapkan, tandatangan kontrak dengan pengusaha benih tanpa terlebih dahulu mengasah kemampuan petani dalam mengelola lahan pertanian.

Sebagai ujung tombak pertanian/perkebunan, saat itu petani sesungguhnya menanti penjelasan yang riil dari pemerintah tentang hasil panen mereka (disetor kepada siapa? berapa harganya? dan sebagainya). Semua mengambang tanpa keputusan yang jelas; apakah petani akan menanam Jathropa dalam skala besar dengan memanfaatkan lahan tidur, di pinggir kebun sebagai tanaman pembatas atau sekedar ada proyek tanpa berorientasi bisnis?

Saat petani masih memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh bila menanam Jathropa, ternyata harga Jathropa tidak seperti yang diimpikan. Petani pun kecewa karena sudah cukup banyak sumber daya yang tersalur untuk menanam Jathropa, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menelantarkan tanaman pangan.

PROSPEK PENGEMBANGAN JAGUNG

Departemen Pertanian Amerika Serikat mencatat, pertumbuhan konsumsi jagung dunia dalam lima tahun terakhir mencapai 2,7 persen atau melampaui tingkat pertumbuhan produksi yang hanya 1,7 persen. Hal itu antara lain dipicu oleh tingginya permintaan jagung sebagai bahan baku bioethanol di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China. Selain itu, kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dan industri makanan (Kompas, 2/7/2008).

Di Indonesia, Provinsi Gorontalo menjadi terkenal sejak digalakkannya penanaman jagung melalui program Agropolitan. Pada tahun 2004 realisasi ekspor jagung Gorontalo hingga semester pertama Januari sampai dengan Juni 2004 mencapai 37.439,21 ton. Data yang diperoleh dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo menunjukan bahwa produksi yang ada sebagian besar masih diserap oleh pasar lokal dengan tujuan Surabaya, Bitung dan Manado yang mencapai 25.341,21 ton sedangkan realisasi ekspor pada semester yang sama baru mencapai 12.098.00 ton dengan negara tujuan Malaysia dan Philipina (http://distan.gorontaloprov.go.id, 2/6/2008). Maka, sangat tepat kalau Gorontalo memilih jagung menjadi primadona perekonomian daerah dalam meningkatkan pendapatan para petani didaerah tersebut. Bagaimana dengan NTT?

Menanti gebrakan baru

Sejak digalakkan penanaman mente oleh beberapa gubernur di masa orde baru, kondisi perekonomian NTT mulai membaik. Sayangnya, ternyata pemerintah propinsi dari satu gubernur ke gubernur lain tidak dapat memutuskan potensi mana yang harus dikembangkan secara berkelanjutan. Apakah mente, ternak besar, hortikultura (jeruk keprok So’e, pisang Beranga/Barangan dll) atau kelautan (ikan, rumput laut, mutiara)?

Sekarang ketika isu jagung sedang merebak, Pemerintah Propinsi pun mulai menggalakkan penanaman jagung hibrida seperti beberapa tahun lalu saat sedang hangatnya isu Jathropa. Entah program apa lagi yang baru jika issue jagung hibrida nantinya tidak memcuat lagi.

Jagung yang diproduksi oleh Gorontalo adalah jagung hibrida yang benihnya disubsidi oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp.40.000,-/kg. Saat ini Propinsi Gorontalo sedang bekerjasama dengan salah satu perusahaan swasta dari Korea untuk penyediaan jagung sebagai salah satu sumber pakan ternak. Ditambah dengan kerjasama sejumlah propinsi di Pulau Sulawesi yang tergabung dalam Corn Belt Celebes, mereka bahkan telah mampu menyuplai jagung ke Malaysia dan Philipina.

Selanjutnya, apakah Pemerintah Propinsi NTT dapat melakukan langkah spektakuler tersebut dengan segudang mimpi dan harapan dari masyarakat NTT?

TONGBES…TUNGSAR…, TONGKOL BESAR…UNTUNG BESAR

Sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang agrobisnis dan agroindustri mencoba mempromosikan jagung hibrida dengan slogan di atas. Secara umum jagung hibrida telah dikenal oleh masyarakat luas. Namun demikian, jumlah petani yang membudidayakan jagung hibrida masih sangat terbatas. Ini membuktikan bahwa serapan teknologi jagung hibrida di kalangan petani masih rendah dan membutuhkan waktu.

Di Indonesia, jagung hibrida mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Varietas jagung hibrida juga bervariasi ada BISI-2, BISI-12, BISI-16, Pioneer, CPI 1 dan sebagainya. Selain sebagai bahan pangan, jagung dapat juga digunakan sebagai bahan baku industri baik untuk pakan ternak, makanan, farmasi, dextrin dan juga bioetanol.

Badan Pusat Statistik mengharapkan 12 daerah di Indonesia untuk menjadi daerah pangan utama. Ke-12 daerah tersebut diproyeksikan menyumbang produk pertanian utama nasional tahun 2008, baik padi, kedelai dan jagung. Ke-12 daerah yang dikategorikan sebagai penghasil utama padi, kedelai dan jagung secara nasional itu, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo dan Sulawesi Utara (Pos Kupang, 3/3/08).

Saat ini terjadi dilema, apakah jagung yang akan diproduksi oleh NTT untuk pangan atau pakan ternak? Ketika saya berbincang-bincang dengan Kepala Produksi salah satu BUMN dari Medan, beliau mengatakan saat ini BUMN tersebut sedang mengusahakan penanaman jagung pada lahan sekitar 3.000 hektar. Jagung tersebut bukan untuk pakan ternak ataupun bioetanol melainkan untuk ketersediaan pangan yang bekerjasama dengan BULOG.

Sementara di NTT yang terkenal dengan rawan pangan dan gagal panen malah ingin berusaha mengembangkan jagung untuk pakan ternak bukan untuk ketahanan pangan. Sebenarnya saat ini pe¬tani jagung sangat tidak diuntungkan ka¬rena produksi jagung bulan Januari-April 2008 sekitar 4-5 juta ton dijual kepada spekulan seharga Rp.1.800-Rp.2.200/kg.

Beberapa minggu lalu (14-16 Juli) jagung dari petani tersebut ditawarkan oleh para spekulan ke feedmeel atau perusahaan pakan ternak sekitar Rp.4.000-Rp.4.200/kg. Padahal harga jagung Indonesia sepantasnya sekitar Rp2.500-Rp2.600 karena harga CBOT (Chi¬ca¬go Board Of Trade) sekitar 270-280 do¬lar AS/ton dengan mutu sangat baik yakni kadar air kurang dari 14 persen dan aflatoksin kurang dari 10 ppb (http://www.bernas.co.id, 29/8/2008).

Tetap Optimis

NTT maju, bisa sejajar dengan propinsi lainnya, bisa angkat kepala, kala mau belajar berproses. Kegagalan penanaman ubi kayu di Manggarai Barat dan Jathropa di Sumba dapat dijadikan bahan refleksi yang sangat bermanfaat. Lebih lanjut, banyak sector harus dibenahi, dari petani, birokrat, kerjasama dengan Perguruan Tinggi, Konsultan, LSM dan pihak swasta (investor).

Menteri Pertanian RI Dr. Anton Apriantono saat Seminar Nasional di Universitas Negeri Yogyakarta 10 April 2008 lalu mengatakan, “Begitu banyak potensi daerah yang ada pada setiap Propinsi di Indonesia. Mengapa tidak mencoba untuk menggali dan menjadikannya sebagai karakteristik daerah masing-masing seperti Gorontalo dengan produksi jagungnya….dan bukan asal mengadopsi potensi daerah lain yang belum tentu cocok dengan lahan dan karakteristik daerah yang mengadopsinya”.

Bila Pemerintah Propinsi NTT tetap ingin menanam jagung hibrida, sebaiknya dibuat lahan percontohan dan tetapkan lokasi tertentu untuk penanaman jagung hibrida. Penanaman jagung hibrida memang tidak membutuhkan pasokan air yang rutin seperti padi melainkan cukup dialiri dua minggu sekali dan tidak perlu diairi pada musim hujan. Pastikan bahwa ketersediaan air pun cukup untuk minum dan MCK. Ini penting, mengingat persaingan akan kebutuhan air bisa menggagalkan kegiatan penanaman jagung.

Ada sebuah pertanyaan yang perlu dicermati , “Apakah saat digalakkan penanaman jagung hibrida untuk pakan ternak, masyarakat kita sudah berkecukupan pangan?”. Jangan-jangan saat paceklik nanti, jagung yang seharusnya untuk dijual beralih fungsi untuk dikonsumsi; daripada makan buah bakau atau umbi beracun bukan? Jika hal itu terjadi, maka proyek spektakuler ini mulai mengalami kegagalan dan semuanya tak lebih dari penghamburan dana rakyat semata.

*Penulis adalah warga Kec. Wulanggitang Kab. Flores Timur saat ini sedang menyelesaikan S2 pada program Magister Manajemen Agribisnis di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta