Kasus Gizi Buruk Terjadi Sejak lama
Harian KOMPAS, Selasa, 17 Juni 2008 | 03:00 WIB

Kupang, Kompas – Sejak awal Januari sampai 13 Juni 2008 tercatat 23 anak balita di Nusa Tenggara Timur meninggal karena gizi buruk. Sejauh ini, ada 12.818 anak balita mengalami gizi buruk dan 72.067 anak balita lain menderita gizi kurang. Apabila tidak segera ditangani, korban meninggal akan terus berjatuhan.

Kematian 23 anak balita itu terkait pola asuh dan asupan gizi yang tidak memadai bagi tumbuh kembang mereka. Penyebab utama kasus gizi buruk adalah kemiskinan.

Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur (NTT) Stev Bria, Senin (16/6) di Kupang, mengatakan, ada 114 anak dengan kelainan klinis dari 12.818 anak gizi buruk, 100 anak di antaranya mengalami maramus, 12 anak kwashiorkor dan maramus-kwashiorkor dua anak.

”Kasus itu terjadi sejak awal Januari sampai 13 Juni 2008 dan tersebar di 20 kabupaten/kota di NTT. Gizi buruk biasanya disertai penyakit seperti tuberkulosis, malaria, diare, infeksi saluran pernapasan akut, dan cacingan,” papar Stev.

Kasus terbanyak gizi buruk di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) 3.116 anak, Kabupaten Kupang 2.192 anak, Timor Tengah Utara (TTU) 1.466 anak, dan Kabupaten Sumba Barat Daya sebanyak 885 anak. Kasus gizi kurang terbanyak di TTS 14.039 anak, Sikka 7.955 anak, dan TTU 7.262 kasus. ”Jika anak gizi buruk dan gizi kurang tidak segera ditangani, jumlah korban meninggal akan bertambah,” kata Stev.

Sejak lama

Persoalan gizi buruk di NTT, menurut Stev, sudah berlangsung lama. Tahun 2005, Gubernur NTT pernah mengeluarkan keputusan tentang kejadian luar biasa gizi buruk.
Untuk mengatasi masalah gizi buruk di NTT, perlu dana Rp 54 miliar. Akan tetapi, dana yang tersedia dari APBD provinsi hanya Rp 1,5 miliar dan dana dari APBD kabupaten/kota Rp 5,6 miliar. Pihaknya sedang meminta tambahan dana dari pemerintah pusat.

Masalah lain adalah keterbatasan pengetahuan para ibu tentang gizi. Banyak ibu hanya memberi satu jenis makanan, seperti jagung atau nasi, kepada anak. Padahal, tersedia jenis makanan lain, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dan sayuran yang kaya gizi. ”Para ibu sudah mendapat penyuluhan dari kader gizi posyandu. Namun, sulit mengubah mereka,” tutur Stev.

Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan NTT Petrus Langoday mengatakan, ada tiga kabupaten berisiko tinggi rawan pangan, yakni Kabupaten Lembata dengan 11 desa, Kabupaten Rote Ndao di tiga desa, dan Kabupaten Sumba Barat Daya di tujuh desa. Sementara itu di Ende, sepanjang Januari-Juni 2008, kasus gizi buruk di Kabupaten Ende, Pulau Flores, NTT, meningkat 17,7 persen. Tahun 2007, terdapat 111 kasus gizi buruk dan saat ini meningkat menjadi 135 kasus. Hal tersebut dikemukakan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende Agustinus G Ngasu, Senin di Ende. (KOR/SEM)

Per tahun 2008 alokasi dana PNPM-MP berkisar antara 1 milyar s/d 3 milyar … naik 2 sampai 3 kali dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu kenaikan alokasi ini bertujuan untuk “memperluas jangkauan” dalam membantu kaum papa, rumah tangga miskin yang “konon” belum turun juga jumlahnya, malah cenderung meningkat …Tulisan Harian Kompas 17 Juni 2008 .. semestinya membuat kita tersentak, 23 investasi masa depan kita, masa depan Indonesia terenggut !!!….dan ampunilah kami, khususnya pelaku di Propinsi NTT yang mungkin masih belum menelisik secara mendalam dan peka atas realitas persoalan di sekitar, ampunilah kami yang masih sibuk dengan diri sendiri !!! sibuk dengan pengakuan, pundi-pundi, dan gelimang keduniawian yang akhirnya membuat kami lupa!!! Kami menjadi sangat MALU !!!
Per tanggal 13 Oktober 2008, kami diingatkan lagi mengenai krisis pangan di Propinsi NTT. Beberapa data penunjang
mengenai kerawanan pangan dapat diunduh di ketahanan-pangan-2008. Sangat direkomendasikan para pelaku program PNPM mulai dari Fas. Kab./T-Kab sampai ke tingkat FK/FT/FK-AP dapat menempatkan tulisan diatas sebagai sebuah refleksi pelaksanaan program kegiatan di lapangan.

Sangat disayangkan ketika program PNPM yang bersifat open menu selama ini hanya diterjemahkan sebatas bangunan fisik !!! Kami di Propinsi NTT tak lupa meminta maaf dan meminta dukungan dari segenap pemangku kepentingan untuk menumbuhkan lagi semangat kebersamaan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di Propinsi NTT.

~Tito