Sampai bulan Oktober 2008, tahapan kegiatan SADI Provinsi NTT telah menyelesaikan tahapan kegiatan perencanaan. Pada minggu pertama sampai dengan minggu kedua di bulan Oktober, SADI Provinsi NTT telah melakukan pelatihan bagi TPK (seterusnya: Tim Pengelola Kegiatan) di 5 Kecamatan, Kecuali Kecamatan Amanuban Selatan yang direncanakan melakukan pelatihan TPK pada tanggal 27 Oktober 2008. Lamban?, ya akibat dari ketiadaan Fasilitator Kecamatan yang dapat mengelola dan melaksanakan program.

Pada bulan sebelumnya, September 2008, Spesialis SADI Provinsi NTT bekerjasama dengan IFC dan ACIAR melakukan proses penilaian terhadap kelayakan Business Development Service Provider (BDSP) yang tertarik untuk terlibat dalam proses pengembangan agribisnis di 6 kecamatan lokasi pilot program SADI di Provinsi NTT. Hasilnya adalah shortlist 83 BDSP yang kemudian dikirimkan oleh Spesialis SADI Tk. Provinsi kepada pelaku di Kabupaten sampai kemudian ke TPK di Tk. Desa. Selanjutnya, TPK didampingi oleh FK Agribisnis Perdesaan (seterusnya: FK-AP) dan Pendamping Lokal Agribisnis Perdesaan (seterusnya:PLA) memberikan penilaian atas short list BDSP. Diharapkan pada akhir bulan Oktober 2008, Provinsi NTT dapat menyelesaikan kegiatan pelelangan atas jasa lembaga mitra BDSP. Pelelangan terhadap BDSP mengacu pada setiap usulan kegiatan kelompok tani sesuai dengan hasil musyawarah antar desa (MAD) pendanaan. Sebagai sebuah gambaran, Tabel 1 menggambarkan tentang ragam komoditas usulan kegiatan terdanai di lokasi pilot program SADI Provinsi NTT .

Secara detil hasil MAD Pendanaan di lokasi pilot program dapat diundauh di mad-3-kab-ngada dan mad-3-kab-tts. Kelemahan yang umum terjadi pengembangan agribisnis di Provinsi NTT adalah lemahnya social capital dan manajemen kelompok tani. Selain itu, pengembangan agribisnis di Provinsi NTT menghadapi kendala geografis lokasi yang sulit dijangkau. Beberapa kelemahan tersebut patut menjadi pertimbangan ketika dari segi jumlah kelompok tani di desa terdanai sudah cukup banyak, pertanyaannya adalah sejauh mana intensitas kegiatan pendampingan dari Fasilitator Kecamatan terhadap seluruh kelompok tani di desa terdanai.

Menimbang banyaknya kelompok tani yang diampu oleh FK AP dan kesulitan kondisi geografis di lokasi pilot maka direkomendasikan agar Fasilitator Kecamatan dapat mengoptimalkan peran BDSP terpilih dalam proses pendampingan ke kelompok tani, selain mengoptimalkan kapasitas pelaku SADI di tingkat desa yaitu Kader Agribisnis Desa dan Tim Pengelola Kegiatan.

Dari seluruh rencana kegiatan yang terdanai, kegiatan pengembangan kapasitas bagi kelompok tani direncanakan berlangsung sekitar bulan November 2008 sampai dengan bulan Maret 2009. Kegiatan ini diupayakan untuk sesuai dengan kalender musim berdasarkan jenis komoditas yang diusulkan, contoh: pada bulan Maret 2009 dilakukan pelatihan Hijauan Makanan Ternak (HMT), sebagai alasan adalah pada saat ini, belum tersedia cukup hijauan makanan ternak.

Spesialis SADI di Provinsi NTT juga melakukan kegiatan pengembangan jaringan dengan pemangku kepentingan sebagai upaya untuk mendukung sinergi sistem perencanaan pembangunan partisipatif. Pada Bulan September dan Oktober 2008, telah dilakukan pengembangan jaringan dengan Yayasan TLM, PUSKUD, Zeth Malelak, BPTP Naibonat, AusAID, Yayasan Lensa Mandiri, FAO, UNICEF, Oxfam, Care Interntional, Badan Bimas Ketahanan Pangan, dan PIDRA.

~tito’08