Sebanyak 108 petani dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mengunjungi kebun model milik Politeknik Pertanian (Politani) Undana-Kupang, Sabtu (9/5/2009). Para petani itu ingin belajar bagaimana mengelola lahan pertanian secara efektif.

Kepala Kebun Unit Uji Politani Negeri Kupang, Ir Zainal Arifin, MP mengatakan hal tersebut, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Sabtu (9/5/2009).

Menurut dia, akhir-akhir ini pihaknya sering menerima kunjungan dari berbagai pihak ke kebun percontohan itu. Para pengunjung umumnya ingin melihat dari dekat bagaimana mengolah lahan pertanian agar bisa memberikan hasil berlimpah.

Para petani yang berkunjung itu, lanjut dia, adalah yang tergabung dalam Kelompok Tani Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di TTS.

Mereka ingin belajar bagaimana penerapan pola pertanian terpadu yang kami kembangkan, ujarnya.

Saat ini, lanjut dia, Politani Negeri Kupang mengembangkan pisang beranga asal Ende dalam jumlah ribuan pohon. Sebagian pisang kini siap panen.

Di kebun itu juga, tutur Zainal, ditanami pula sayur-sayuran, lombok dan aneka tanaman palawija lainnya. Bahkan ada juga ternak sapi dan ayam ayam. Semua itu menjadi satu kesatuan sehingga disebut sebagai pola pertanian terpadu. (*)

Saban: Petani Pisang Beranga

TUBUHNYA ceking tinggi. Nampak sudah agak gemetaran karena termakan usia. Namun ternyata semangatnya dalam berusaha masih tetap tinggi. Itulah, petani pisang beranga di Baumata Kupang, Osias Saban (63)

Saat ditemui Pos Kupang, Jumat (8/5/2009), Saban nampak dengan antusias menceritakan apa kegiatannya saat ini. Ia sebenarnya dalam lima tahun terakhir ini bergelut dalam bisang usaha, Sei Babi di Baumata.

Perkembangan usaha sei babi tersebut ternyata memberi hasil banyak sehingga ia tidak tanggung-tanggung menginves dalam bentuk tanah. Ia juga tinggal di Baumata hanya sebagai pendatang karena sebetulnya ia sendiri berasal dari Oeletsala.

Ia memilih pindah ke Baumata tahun 1989 lantaran ingin menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi. Niat itu pun tercapai sudah karena saat ini tiga orang dari empat anaknya telah mengenyam pendidikan tinggi. Malah yang bungsu, Atin Saban masih dalam masa belajar di sekolah Perhubungan Darat di Bekasi.

Niat saya pindah ke Baumata tercapai karena anak-anak bisa sekolah. Kalau saya tetap tinggal di Oeletsala maka tidak mungkin anak-anak bisa belajar ke perguruan Tinggi, ujar suami Frederika Saban itu.

Ibarat gayung bersambung, sesaat setelah ia membeli tanah di sekitar sumber air Baumata, pihak Politani Negeri Kupang juga getol mengembangkan pola pertanian terpadu. Salah satunya pengembangan pisang beranga.

Osias mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikerjakan Politani Kupang itu. Ia setiap hari mendatangi lokasi itu lalu belajar banyak bagaimana memelihara pisang beranga.

Buntutnya, ia membeli 254 pohon anakan pisang beranga. Jumlah itu saat ini sudah berkembang menjadi 254 rumpun pisang beranga. Pisang-pisang tersebut saat ini sudah menghasilkan uang mencapai Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan.

Saya kini sudah menikmati hasil dari kebun pisang beranga. Saya juga berterima kasih kepada pihak politani Kupang yang setia memberikan bimbingan kepada kami saat-saat awal menanam pisang beranga, ujarnya.
Sumber : HU. Pos Kupang