Desa Oepliki-Kecamatan Amanuban Selatan

Rabu, 20 Mei 2009
Pelaksanaan kegiatan pengembangan kapasitas bagi Petani kecil melalui program PNPM Agribisnis Perdesaan, dan selanjutnya disebut dengan SADI, di Provinsi NTT dimulai sejak Bulan Januari 2009. Melalui sebuah proses perencanaan partisipatif yang panjang -hampir memakan waktu 6 Bulan-, usulan-usulan kegiatan dari masing-masing Desa di lokasi Pilot Program dikompetisikan. Total jumlah Desa yang telibat dalam kegiatan pengembangan kapasitas di lokasi pilot program Provinsi NTT adalah 67 Desa dari 74 Desa di 6 Kecamatan.

YPMD-Horti Oepliki9

Salah satu Desa terdanai dalam program ini adalah Desa Oepliki yang berlokasi di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Untuk bisa menembus lokasi Desa kadangkala menemui kendala, baik itu karena faktor kendaraan, kondisi alam maupun cuaca. Terlebih lagi bila lebih dari satu faktor hadir bersamaan, semisal tanjakan yang curam disertai guyuran hujan sekaligus. Wilayah Desa yang terletak di wilayah perbukitan denga jalan antar Desa yang sempit, kadang menanjak dan kemudian secara drastis menurun dengan kelokan-kelokan tajam. Jika direnungkan, lagu “Nenek moyangku seorang pelaut….” Tak selamanya benar. Ternyata Nenek Moyang kita juga “seorang pendaki”. Namun, jangan salah, meski terletak di Desa yang dapat dikategorikan sulit terjangkau, Desa Oepliki pernah diresmikan oleh Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), meresmikan wilayah ini sebagai ‘Firdaus TTS’ pada 29 April 2008. Hal ini berkaitan dengan sumber air yang melimpah, sehingga wilayah ini cukup potensial dikembangkan sebagai sumber penghasil komoditi pangan dan hortikultura untuk memenuhi konsumsi bagi Desa-Desa terdekat.

Dalam proses perencanaan pengembangan agribisnis secara partisipatif yang didanai oleh SADI, Desa Oepliki mengusulkan beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain: 1) Pengembangan agribisnis dan demonstrasi-plot komoditi hortikultura; 2) Pengembangan agribisnis dan demosntrasi-plot komoditi sapi bali; serta 3) pengembangan agribisnis dan demonstrasi-plot komoditi Jeruk. Total masyarakat petani yang terlibat sebagai Peserta dalam kegiatan ini adalah 100 Orang yang tergabung dalam kelompok-kelompok usaha. Masing-masing kelompok mengirimkan 10 orang sebagai Peserta Pelatihan.

Dari pengakuan Bapak Marten selaku Ketua TPK (Tim Pengelola Kegiatan) dan wawancara kepada anggota kelompok tani di Desa Oepliki, mereka mengatakan bahwa selama ini program pengembangan ekonomi berbasis agribisnis di wilayah ini masih belum ada. Hal ini yang membuat masyarakat di wilayah ini sangat antusias menyambut pelaksanaan program SADI. Kehausan informasi mengenai pengetahuan dan keterampilan agar mereka bisa mengelola potensi sumber daya alam di Desa mereka nampak begitu nyata ketika mereka melakukan praktek-praktek lapangan pada pelaksanaan kegiatan pelatihan.

YPMD-Horti Oepliki15

Dari penuturan Bapak Marten, kegiatan pelatihan di Desa Oepliki difasilitasi oleh 3 (tiga) BDSP (Business Development Service Provider) yaitu dari Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa (YPMD), BPP Kecamatan Amanuban Selatan, dan LPM Undana. Selama pelaksanaan program PPK (Program Pengembangan Kecamatan) yang kemudian berganti nama menjadi PNPM Mandiri Perdesaan, pelaksanaan kegiatan dengan melibatkan lembaga jasa dari luar program semacam ini merupakan pengalaman yang sangat baru. Namun, mereka senang karena dengan melibatkan pihak dari luar, mereka belajar mengenai hal-hal baru dalam mengembangkan potensi sumber daya alam mereka.

Sebagai contoh adalah kegiatan Pelatihan pengembangan agribisnis dan demplot komoditi hortikultura yang difasilitasi oleh YPMD. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang Peserta yang semuanya adalah kaum Perempuan. Dari 30 orang Peserta yang terlibat, Ketua TPK menjelaskan bahwa 5 orang diantaranya adalah buta huruf (tidak mengenyam pendidikan), tidak lulus SD 10 orang dan sisanya dari beragam latar belakang pendidikan. Belajar sambil bermain adalah metode yang diterapkan oleh Fasilitator dari YPMD. Sehingga, Peserta dari latar belakang pendidikan dapat memahami apa yang diajarkan. Hal yang paling disukai oleh kelompok adalah ketika pagi hari, Peserta melakukan senam bersama sebelum memulai kegiatan Pelatihan. Bagi mereka yang terlambat dikenai hukuman menari sambil menyanyi. Dari proses ini, Peserta belajar sesuatu, biasanya mereka pada pagi hari masih berbalut kain sarung, jam 7 pagi mereka berlomba sudah pergi ke tempat pelatihan dengan suka hati, “takut menari dan menyanyi….”, begitu ungkapan lepas dari salah seorang Ibu yang diwawancarai.

YPMD-Horti Oepliki14

Setelah senam pagi, acarapun dilanjutkan dengan materi-materi mengenai manajemen kelompok, teknik budidaya, penanganan hama dan penyakit tanaman, penataan dan pengolahan lahan, serta pemasaran. Dari keseluruhan materi, pada akhir Pelatihan dilakukan evaluasi terhadap kegiatan pelatihan dengan memberikan pertanyaan dengan pilihan berganda yang kemudian dijawab oleh Peserta. Dari hasil evaluasi, keseluruhan Peserta menjawab rata-rata benar. Juara I adalah seorang Ibu yang hanya tamatan SD, dia mendapatkan hadiah berupa Kitab Suci dari Bapak Maxi Blegur selaku Fasilitator dari YPMD.

Pada saat akhir pelatihan, banyak dari Peserta yang menangis, mereka terharu atas pelayanan yang diberikan oleh Fasilitator. Mereka mengatakan bahwa para Fasilitator sangat sabar dalam membimbing Peserta yang berasal dari latar belakang pendidikan -bahkan ada yang tidak mengenyam pendidikan- memahami materi pelatihan. Mereka terharu atas kebersamaan dan proses belajar pada saat kegiatan pelatihan, sebuah proses yang selama ini belum pernah mereka dapatkan. Sebuah proses yang memberikan ruang bagi mereka untuk memahami sedikit demi sedikit tentang apa dan bagaimana menjadi seorang PETANI. Harapan mereka adalah bahwa sisa pendanaan dapat mereka gunakan untuk membeli bak penampung air yang dapat mereka gunakan untuk menyiram lahan demplot dan pembelian benih-benih sayur bagi anggota kelompok agar anggota dapat menguji di lahan mereka sendiri.

~chr@2009