Kamis, 11 Juni 2009 | 10:06 WIB KOMPAS.com —

jeruk_cina

Jibrail Lasa dan dagangannya, jeruk China tapi bukan dari China

PAGI itu cuaca cerah. Lalu lalang kendaraan di depan Gereja Koinonia, cukup ramai. Deru kendaraan pun terasa amat bising. Dan di tengah kebisingan itu, beberapa penjual jeruk keprok sedang asyik bersenda gurau. Mereka duduk berjejer di sisi trotoar. Ada yang sibuk mengatur buah jeruk yang ada dalam sokal (wadah), ada juga yang sedang menaruhnya dalam timbangan duduk, yang diletakkan persis di hadapannya. Saat itu, mereka tenggelam dalam kesibukannya.Salah seorang di antaranya bernama Jibrail Lasa spontan bergerak mendekat ketika ada calon pembeli. “Ini jeruk china, tapi bukan berasal dari china. Jeruk ini dari Kapan, Timor Tengah Selatan (TTS). Rasanya manis, harganya murah.” Begitulah Jibrail memulai pembicaraannya. Pria berusia 30 tahun ini murah senyum. Mengenakan baju kaus kuning dipadu celana pendek putih, ia menuturkan secara detail suka dukanya menjual jeruk keprok (biasa disebut jeruk cina). “Waktu kami mulai berjualan di tempat ini, kami minta izin dulu di pemilik tokonya. Waktu itu kami omong bahwa walau berjualan di atas trotoar di pinggir jalan, tapi kami berusaha jaga kebersihan di tempat ini,” ujarnya.

Menurut dia, saat tiba di Kota Kupang pekan lalu, ia dan sesama penjual lainnya membawa jeruk keprok puluhan dus banyaknya. Setiap dus itu berisi sekitar 40 kg. Jeruk manis itu kemudian dijual dengan harga antara Rp 15.000-Rp 30.000/kg. Jeruk yang buahnya lebih kecil dijual murah, hanya Rp 15.000/kg. Sedangkan jeruk yang kualitasnya lebih baik, buahnya besar, dan rasanya lebih manis dijual seharga Rp 30.000/kg. Harga itu, lanjut Lasa, sesungguhnya tidak terlalu mahal untuk ukuran Kota Kupang. Sebab, harga itu telah dihitung dengan ongkos angkut dan biaya lain selama mereka berada di Kupang.

Untungnya, tutur pria asal Desa Netpala, Kecamatan Mollo Utara ini, selama ini jeruk tersebut laris manis. Dari sekitar 40 dus yang dibawanya pekan lalu, kini tinggal sedikit. “Setiap saat ada saja orang yang datang beli,” ujarnya. Menurut dia, di Kabupaten Timor Tengah Selatan tidak semua daerah penghasil jeruk keprok. Dari sekian banyak kecamatan, hanya Mollo Utara yang merupakan daerah penghasil terbanyak jeruk manis tersebut. Bahkan wilayah itu bukan saja sebagai “rajanya” jeruk keprok, tetapi juga hasil pertanian lainnya.

Wortel, kentang, labu jepang, cengkeh, bawang putih, dan lain-lain yang ada di pasaran Kota Kupang, semuanya berasal dari daerah itu. “Di TTS sekarang ini, kami petani sedang berlomba-lomba menanam bibit jeruk keprok. Bibitnya kami dapat dari Dinas Pertanian, masing-masing 250 anakan. Bibit jeruk itu kini sudah tinggi. Nanti kalau sudah berbuah, panen pertama kami serahkan ke dinas dan selebihnya menjadi milik kami,” tutur Lasa dibenarkan marthen dan Yusuf Lasa. (kro)