Desa Eonbesi-Kecamatan Mollo Utara

10 Juni 2009

Pelatihan pengembangan agribisnis budidaya ikan air tawar di Desa Eonbesi, Kecamatan Mollo Utara diakhiri dengan lantunan lagu berjudul “Lais Manekat”, terdengar syahdu dari Kelompok Tani Siloam, dipimpin oleh salah seorang Peserta Bapa Leksi Baitan. “Lais Manekat” mempunyai arti yaitu indahnya kasih persaudaraan. Sebuah lagu yang kemudian menjadi salah satu pilar kebersamaan antar anggota dalam Kelompok Tani Siloam.

Menurut penuturan Mama Rut selaku Ketua TPK (Tim Pengelola Kegiatan) di Desa Eonbesi, Kelompok tani “ Siloam“ didirikan pada tahun 1996, beranggotakan 12 orang terdiri dari 11 orang laki-laki dan 1 orang perempuan dimana anggota satu dan lainnya masih memiliki hubungan kekeluargaan/kekerabatan. Keanggotaan kelompok dilihat dari segi pendidikan rata-rata adalah SD (9 orang), 2 orang berpendidikan setingkat SMP dan 1 orang setingkat SLTA dengan umur tertua 40 tahun dan termuda 27 tahun.

mama_rut Gambar 1: Mama Rut (samping kanan) berpose bersama dengan Direktur Utama SADI, Ibu Jackie Pomeroy

Ada beberapa kegiatan yang dikembangkan kelompok selama ini yakni usaha budidaya ikan air tawar dan “tofa” . Bahkan sekarang sudah ada upaya kelompok membangun kandang dan memelihara ayam kampung/buras di atas kolam. Khusus untuk usaha budidaya ikan air tawar kelompok sendiri telah memiliki beberapa kolam pemeliharaan yang konstruksinya masih sederhana. Ada yang masih dalam bentuk kolam tanah tapi juga ada yang sudah berbentuk kolam semi permanen. Mereka juga sudah membudidayakan ikan yang dipelihara kelompok dari jenis ikan gurami dan karper dengan mengandalkan mata air alam di sekitar lokasi usaha. Menurut cerita dari anggota kelompok, mata air di lokasi ini selalu ada, kalau pada musim kemarau debitnya berkurang tapi tidak sampai kering.

Dari usaha budidaya yang selama ini dikelola oleh Kelompok, permasalahan utama yang mereka hadapi adalah bahwa usaha budidaya ikan air tawar yang selama ini dilakukan oleh kelompok masih dilakukan secara tradisional. Semua yang mereka lakukan adalah dari hasil coba-coba dari anggota kelompok, tanpa ada pengetahuan dan keterampilan yang khusus yang mereka dapatkan sebelumnya. Ini dapat dilihat dari konstruksi kolam yang belum sepenuhnya memenuhi syarat pemeliharaan (saluran pemasukan dan pengeluaran air termasuk juga sistim pemeliharaan yang masih seadanya terutama dalam hal pemberian makan belum secara rutin, lebih banyak mengandalkan makanan alam yang tersedia, sirkulasi air dan kebersihan kolam masih belum mendapat perhatian serius, ikan yang dipelihara masih dicampuradukan (ukuran,jenis ikan), masih banyak hewan liar ada dalam kolam seperti berudu, katak, dll (karena sistim pengamanan kolam masih kurang optimal), termasuk juga dalam persiapan kolam untuk pemeliharaan belum menerapkan perlakuan-perlakuan sesuai aturan dalam sistim budidaya yang baik. Dampaknya menurut kelompok hasil yang di capai selama ini hanya baru untuk dikonsumsi kelompok dan belum ada yang dijual.

Menurut pengakuan mereka, ada peluang pasar yang semakin meningkat dari hari ke hari, sementara untuk memenuhi permintaan pasar, Masyarakat di Kecamatan Mollo Utara masih mengandalkan asupan ikan dari luar Kecamatan (Kupang), dengan harga yang tentunya cukup tinggi dan keterediaannya juga terbatas apalagi pada musim-musim angin kencang. Untuk itulah kelompok Siloam mengusulkan kegiatan Pengembangan Agribisnis dan Demplot Budidaya Ikan Air Tawar pada pelaksanaan Phase I program PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI) TA. 2008 s/d 2009.

Melalui suatu proses pelelangan yang cukup panjang untuk menseleksi lembaga jasa pengembangaan bisnis (BDSP), Tim Penanganan Kegiatan/TPK kemudian memilah, memilih dan mempercayakan Yayasan Pengembangan Pesisir dan Laut/YPPL – Kupang sebagai BDSP untuk memfasilitasi Pelatihan dan Pendampingan kepada kelompok Budiaya Ikan Air Tawar Kelompok Tani “Siloam “.

lelang_molloGambar 2 : Mama Rut (Baju Putih) sedang memeriksa dokumen pelelangan BDSP.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap yaitu kegiatan pelatihan, studi lapangan, praktek dan kegiatan pendampingan. Diakhir pelatihan peserta membuat RKTL yang menitikberatkan pada rencana pengembangan Demplot Budidaya Ikan Air Tawar dengan menerapkan teknik-teknik budidaya yang baik benar serta rencana kunjungan belajar ke lahan usaha seorang petani budidaya ikan air tawar yang sukses di Kupang, Batuplat yakni bapak Roni Nalle.

Merasa termotivasi dari hasil pengalaman kegiatan pelatihan, anggota kelompok membangun 2 (dua) unit kolam percobaan untuk membudidayakan ikan air tawar dengan cara yang sudah diajarkan pada saat pelatihan. Berbekal dana investasi yang diajukan oleh Kelompok kepada Program PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI), 2 (dua) unit percobaan kolam budidaya ikanpun terbangun kokoh dengan biaya Rp. 10.172.000,-

DSC04308Gambar 3: Pose bersama anggota kelompok tani Siloam, FK-SADI, dan PMO SADI di depan lokasi bangunan kolam

Akhir Maret 2009 kolam percobaan Kelompok Tani Siloam terbangun, oknum Petugas Penyuluh Pertanian di Kecamatan Mollo Utara pun tertarik untuk mengikutkan lomba di tingkat Kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan). Tanpa persetujuan dan kesepakatan bersama yang biasa dilakukan dalam program PNPM, Mama Rut selaku Ketua TPK marah besar. “Mengapa pendaftaran yang dilakukan tidak dimusyawarahkan terlebih dahulu, mengapa baru ada lomba Bapak Petugas baru datang dan mengikutkan lomba, dimana Bapak Petugas saat kami lelah bermusyawarah untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan sehingga kolam ini terbangun”, begitu ungkap Mama Rut kepada oknum Petugas.

Masih menurut penuturan dari Mama Rut, selama ini memang oknum petugas penyuluh hanya meminta tandatangan saja, jarang sekali mendampingi kegiatan kelompok tani. Kehadiran program PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI) menurutnya sangat membantu kelompok tani, melalui pelatihan yang diberikan, Kelompok tani Siloam kini sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam membudidayakan ikan air tawar. Melalui program ini, mereka kemudian memahami bagaimana seharusnya kegiatan pelatihan dan pendampingan itu dilakukan, sehingga tumbuhlah kekritisan kelompok tani dengan membandingkan proses pendampingan yang selama ini belum pernah mereka rasakan dari petugas PPL Kecamatan. Dampaknya adalah protes Kelompok Tani kepada oknum PPL di Kecamatan Mollo Utara. Mendengar hal ini, Tim PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI) yang sempat berkunjung dan berdiskusi dengan Kelompok tani Siloam berpesan agar anggota kelompok menyelesaikan permasalahan tersebut. Walau bagaimanapun, PPL merupakan mitra potensial bagi kelompok tani. Semoga dengan pengembangan program, PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI) dapat menemukan cara agar melibatkan PPL dalam pelaksanaan program.

~chr@2009