were3

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, bahwa pada tanggal 24 Agustus sampai 01 Agustus 2009 Manajemen SADI telah melakukan kegiatan supervisi bersama. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan melalui serangkaian kunjungan ke lokasi PNPM AP/SADI sampai ke tingkat Desa untuk mewawancarai kelompok penerima manfaat dan para Pelaku kegiatan di Desa yang dikunjungi. Hal ini dilakukan untuk memperoleh ragam informasi mengenai perkembangan kegiatan, kendala pelaksanaan, dan dampak yang dirasakan oleh kelompok penerima manfaat.

Salah satu lokasi kunjungan kegitan supervisi bersama adalah Desa-Desa di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ketika ditanya mengenai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, secara umum mereka menjawab senang dengan kehadiran SADI. “Program ini sangat sesuai dengan karakteristik masyarakat Desa yang umumnya Petani”, ungkap Yosef Rure Zue selaku Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) di Desa Were I, Kecamatan Golewa.

Dalam pelaksanaan SADI, Desa Were I mengusulkan kegiatan pembuatan jalan usaha tani dan pelatihan agribisnis komoditas kopi. Yosef selaku Ketua TPK menerangkan bahwa usulan kegiatan pembuatan jalan usaha tani sepanjang 729 Meter di Desa Were I menghabiskan biaya sekitar 123 Juta selama 3Bulan pengerjaan. Sebenarnya jalan ini hanya sepanjang 669 Meter, namun karena ada sisa dana pengerjaan maka sisa dana dimanfaatkan untuk menambah panjang jalan menjadi 729 Meter.

were2

Berkat jalan yang telah dibangun melalui pelaksanaan SADI, masyarakat dulu hanya memikul hasil produksi sesuai dengan kemampuan mereka untuk kemudian dipasarkan, sekarang tinggal menunggu para pedagang yang ngumpul menawar dan membeli seluruh hasil produksi mereka. Hasil produksi berupa kopi, kedelai, jahe dan vanili cukup mudah didistribusikan berkat jalan ini, Fransesca Nae selaku Bendahara TPK menegaskan.were1

Pada usulan kegiatan pelatihan agribisnis kopi, anggota kelompok tani di Desa Were I mendapatkan pengetahuan baru terutama dalam hal budidaya dan pemasaran hasil produksi. Menurut pengakuan mereka, di Desa Were I sebenarnya merupakan salah satu lokasi pendampingan pengembangan kopi yang dilakukan oleh Dinas P3 Kabupaten Ngada. Namun, karena adanya keterbatasan waktu dan dana maka beberapa kelompok tani tidak bisa terlibat dalam program yang dikembangkan oleh Dinas P3. Baru pada pelaksanaan SADI inilah pengetahuan mereka bertambah dan tersadar bahwa yang selama ini mereka lakukan dalam membudidayakan tanaman kopi salah. Contoh yang sederhana adalah anggota kelompok yang dilatih selama ini membudidayakan tanaman kopi tanpa ada pengolahan, mereka istilahkan dengan kopi dari “nenek moyang”. Hampir tidak ditemukan anggota kelompok mereka yang melakukan penjarangan, pemupukan, atau peremajaan tanaman. Selain itu mereka juga berkeinginan untuk mendorong sebuah aturan main kelompok berkaitan dengan pemasaran, mereka menginginkan ada sebuah penjualan bersama untuk komoditas kopi yang mereka hasilkan, demikian dituturkan oleh Yosef Rure Zeu.

~chr