Jika mendengar Kabupaten Ngada, salah satu kesan yang membekas di benak kita adalah dingin! Pada bulan Agustus pernah mencapai 6-7 derajat celcius, “tinggal di Kabupaten ini persis seperti tinggal di dalam kulkas” ungkap salah seorang tamu yang pernah berkunjung ke Ngada. Namun jangan salah, tidak semua wilayah di Kabupaten Ngada berhawa dingin. Sebut saja di Kecamatan Aimere yang berhawa cukup panas seperti hawa di kebanyakan wilayah pantai. Kecamatan Aimere berada di pesisir pantai selatan Pulau Flores yang menjadi salah satu penghubung Kabupaten Ngada dengan Kabupaten Manggarai Timur.

Terletak di wilayah yang cukup panas dan cenderung gersang, Kecamatan Aimere memiliki potensi agribisnis yang tak kalah dibanding dengan wilayah Kecamatan lain di Kabupaten Ngada. Salah satu komoditas unggulan di Kecamatan ini adalah Jambu Mete, data statistik potensi Kabupaten Tahun 2008 menunjukkan bahwa Kecamatan Aimere merupakan Kecamatan yang memproduksi mete paling banyak jika dibandingkan dengan Kecamatan lain di Kabupaten Ngada. Sedikitnya 250 Ton Mete dipasok oleh Kecamatan Aimere ke Kota Surabaya.

kacip_keligejo

Kecamatan Aimere merupakan salah satu lokasi Kecamatan Lokasi Pilot Project SADI. Pada kunjungan supervisi bersama yang dilakukan oleh Dirjen. PMD-NMC-World Bank, lokasi Desa yang dikunjungi salah satunya adalah Desa Keligejo di Kecamatan Aimere. Kunjungan dilakukan untuk memantau pelaksanaan kegiatan SADI yang dilakukan di Desa Keligejo. Desa ini mengusulkan Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Jambu Mete dengan total alokasi dana yang dikelola yaitu hampir 28 Juta. Dana ini digunakan untuk pembayaran jasa pelatihan kepada BDSP, pembelian alat pengkacipan (pengupas) biji mete sebanyak 8 unit, dan operasional pelaksanaan kegiatan pelatihan.

Siang itu tanggal 30 Juli 2009 Tim Supervisi datang ke sebuah rumah pengkacipan mete milik Kelompok Tani “Harapan Bersama” di Desa Keligejo. Kelompok tani Harapan Bersama memiliki anggota 35 orang, 20 anggotanya adalah Perempuan dan sisanya laki-laki. Rumah pengkacipan mete yang dikunjungi dibangun secara swadaya. Bangunan terbuat dari anyaman bambu dan terdiri dari 3 ruang terpisah untuk administrasi, gudang dan pengkacipan yang juga digunakan untuk ruang pertemuan.

Komoditas Mete di Desa Keligejo merupakan salah satu hasil dari peninggalan program IFAD yang pernah melakukan pengembangan program di wilayah ini pada Tahun 2001. Tak heran disepanjang perjalanan menuju Desa ini, Tim supervisi melihat deretan pohon mete.

Emanuel Dhuka selaku ketua kelompok tani Harapan Bersama mengungkapkan bahwa kendala yang selama ini dihadapi oleh Petani Mete adalah mereka menjual komoditas mete dalam bentuk gelondongan. Hal ini berpengaruh terhadap harga jual produksi mete. Harga jual gelondongan per kg mencapai Rp. 4000 – 5000 sementara jika sudah diolah dalam bentuk kacip harga per kg bisa mencapai Rp. 50.000,- Namun sesudah Pelatihan, Anggota Kelompok Tani melakukan kesepakatan untuk menjual secara bersama-sama dalam bentuk mete yang telah dikacip (dikupas). “Berkat program ini, kami sekarang dapat mengolah hasil produksi mete dengan melakukan pengkacipan mete dan pendapatan kami bisa meningkat. Saat ini kami memiliki 8 unit alat pengkacip mete untuk mengolah hasil jambu mete yang dihasilkan anggota kelompok. Kami saat ini mencoba untuk fokus mengembangkan industri kecil Pengkacipan Mete” ungkap Emanuel Dhuka, Ketua Kelompok Tani Harapan Bersama.

~chr