Oleh: Maria Regina Tan

“…Sejujurnya kami ingin mengatakan bahwa Program ini sudah mengubah hidup kami, sebelumnya kami sulit sekali mencari uang, tetapi sekarang setelah ada pelatihan dan demplot, setiap hari kami ada aktifitas usaha, kami bisa menjual dan mendapat uang….”

Desa Tobu pada tahun 2008, sebenarnya sudah menjadi wilayah Kecamatan Tobu (salah satu wilayah pemekaran Kecamatan Mollo Utara), namun dalam daftar program PNPM, Desa ini masih termasuk dalam Kecamatan Mollo Utara. Letaknya 15 km dari ibukota Kecamatan, dengan waktu tempuh 35 menit menggunakan kendaraan roda empat (mobil).
Dalam tahun anggaran 2008, desa ini mendapat alokasi dana PNPM-AP untuk 2 kegiatan, yaitu 1). “pelatihan budidaya dan demplot Hortikultura (sayur-sayuran)’ dengan alokasi dana sebesar Rp. 36.228.684; dan 2). Pelatihan budidaya dan demplot jeruk keprok, dengan alokasi dana Rp. 36.576.579. Sasaran lokasi dalam kunjungan Tim Supervisi bersama, adalah kegiatan demplot hortikultura (budidaya sayur sawi, kol bunga dan wortel).

“Tunas baru” demikianlah nama Kelompok yang mengelola demplot Hortikultur. mereka berjumlah 12 orang, terdiri dari 6 laki-laki dan 6 perempuan, semuanya masih memiliki ikatan keluarga. Mengapa demikian?

“usaha antara sesama kami yang masih mempunyai ikatan keluarga ini sangat baik, karena kalau gagal kami malu…, karena kami pertaruhkan nama keluarga besar….sebenarnya dulu kami juga ada usaha sendiri-sendiri, tetapi tidak bisa berhasil seperti sekarang, karena kami kerja suka-suka saja, tetapi sekarang kalau tidak kerja, teman yang lain punya sudah maju, saya punya belum, saya menjadi malu….”(Okto Sanam, Ketua kelompok)

Dalam lahan demplot seluas 1 ha, yang digunakan baru seluas 250m2. Apakah sudah ada pernah memanen?

“…Pemanenan sudah dilakukan 4 kali untuk sawi dan 1 kali untuk kol bunga. Untuk tanaman sawi, dijual dengan harga per bedeng (1m x 10m) Rp.150.000,- sedangkan kol bunga per buah Rp. 5.000,- dan sudah menjual 1.200 buah atau sebesar Rp. 6 juta…kalau kami menanam sawi, biasanya tiga minggu sudah bisa jual. Sekarang kami merasa bahwa, cari uang dengan menjual sayur, cepat dapat…..(Yosua Haekesa, Ketua TPK).

Apakah ada usaha untuk memanfaatkan lahan seluas 1 ha ini untuk tanam sayur-sayuran?

“….sekarang sumber air su dekat….sebelumnya kami mengambil air sekitar 2 km, tetapi sekarang kepala desa kami (Gustaf Sunbanu) melihat kami serius berusaha, maka beliau memberi bantuan berupa pipa kepada kami, dan dari program membantu lagi profil tank, sehingga air su limpah….kami sedang berusaha untuk menggarap seluruhnya, karena kami sudah melihat hasilnya, dimana untuk sawi, kami bisa mendapat uang setiap hari. Pasti saja ada orang datang beli, minimal sehari kami dapat Rp.25.000,-.. Ibu Maria (anggota kelompok)”

Pernyataan ini membuat tim sangat tergoda untuk mengetahui lebih lanjut apa rencana kelompok kedepan, apabila program selesai.

“ …jika program sudah selesai, kami tetap melanjutkan kegiatan ini. Sekarang kami sudah mempunyai modal dari hasil menjual sayuran setiap hari. Pada saat ini jumlah uang Semuanya sudah mencapai 7 juta. Kami sepakat, membagi. Sebagiannya disimpan di kas kelompok dan sisanya dibagi rata untuk semua anggota kelompok…(Okto Sanam)”

Sejauh ini, apakah kelompok sudah memilik aturan yang disepakati bersama?

“… sebenarnya aturan sudah ada, hanya belum disahkan. Kami rencana mau melegalkan pada saat MDST…(Yosua)”

Kegiatan didesa ini sudah mencapai 100%,sehingga TPK sudah merencanakan untuk melakukan MDST pada tanggal 30 Juli 2009.

Pada tanggal 28 Juli 2009, perjalanan kunjungan supervisi bersama dilanjutkan ke Kecamatan Amanuban Selatan. Sebelum berangkat ke Kecamatan Amanuban Selatan, tim supervisi, bersama Fasilitator Kabupaten TTS melakukan pertemuan dengan Bappeda kabupaten TTS, Dinas Pertanian dan PMD, di kantor Bappeda. Tujuannya untuk mendapat informasi dari pemerintah daerah tentang keterkaitan program pemerintah (terutama PUAP) dan PNPM-AP. Pertemuan ini berlangsung antara pukul 09.00 – 10.15 wit

Perjalanan dari Kabupaten TTS menuju Kecamatan Amanuban Selatan menghabiskan waktu kurang lebih 60 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat. Semua pelaku PNPM-MP dan PNPM-AP sudah siap menunggu sejak pagi hari dikantor UPK. Mereka telah menyiapkan semua dokumen yang akan diaudit serta menginformasikan kepada TPK serta desa-desa yang menjadi sasaran kunjungan.

Pertemuan tim dengan pelaku di Kecamatan berlangsung sangat baik. Pelaku kecamatan yang hadir antara lain ; Camat (bapak Albert Nabuasa, S.Pt), PJOK (John Asbanu, S.Tp), FK-MP (Niko Asbanu), FT (Gaby), FK-AP (Theo Lole), Ketua UPK Win Mandala), Sekretaris (john) dan bendahara UPK (Desy) serta sekretaris BKAD dan 2 orang anggota UPK. pertemuan ini membahas kegiatan PNPM di kecamatan, keterkaitan program dengan program pemerintah dan program lain serta kerjasama pelaku-pelaku didesa dan kecamatan.

Dalam pertemuan ini, camat menginformasikan bahwa, jabatan camat untuk dirinya masih baru, karena baru diangkat 2 bulan, tetapi sejauh ini koordinasi antara TPK dan kepala desa untuk beberapa desa sangat kurang. Hal ini karena masing-masing pihak tidak saling terbuka dan tidak merasa saling membutuhkan untuk memajukan desanya. Ini menjadi tugas camat untuk mendekatkan kepala desa ke masyarakat.

Desa Oebelo.

Desa Oebelo merupakan salah satu desa terbaik dalam penyelenggaraan PNPM-AP, baik dari segi progress kegiatan, partisipasi masyarakat maupun kegiatan TPK. Desa Oebelo terletak 10 km bagian Barat dari Kecamatan Amanuban Selatan, dengan jumlah penduduk 3.150 jiwa, terdiri dari 851 KK, 563 diantaranya adalah KK miskin. Luas wilayah desa ini adalah 26.000m2, dengan rata-rata kepemilikan lahan per KK 80m2. Mata pencaharian utama desa ini adalah pertanian dan peternakan, dengan focus uatam pada tanaman padi dan ternak sapi. Dalam tahun anggaran 2008, desa ini lolos untuk 2 usulan dari PNPM-AP, yaitu 1). Budidaya ayam buras dan demplot, dengan dana Rp. 40.267.368 dan 2). Budidaya pembibitan dan demplot ternak sapi Bali, dengan dana Rp. 78.928.947.

Pembibitan ternak sapi Bali.

Jenis kegiatan ini melibatkan 4 dusun (4 kelompok) dan menjadi satu Gapoktan. Sampai saat ini, nama Gapoktannya belum disepakati, karena belum ada pertemuan lagi untuk membahasnya. Anggota kelompok yang semuanya laki-laki berjumlah 64 orang,sebgaian besar sudah memelihara sapi Bali sejak jaman nenk moynag mereka, dan sudah menjadi tardisi turun temurun untuk anak cucu mereka. Namun demikian, jumlah ternak mereka tak kunjung bertambah, malah cenderung menurun akibat penyakit dan tradisi pemeliharaan yang masih tradisional. 4 kelompok ini sudah terbentuk satu tahun sebelumnya.

“…Kami membentuk kelompok ini supaya bisa mendapat pinjaman dari UPK, karena sekarang ini bantuan dari mana saja mempunyai syarat harus berkelompok…..Musa Bako(angggota kelompok)”

Gabungan 4 kelompok itu antara lain; kelompok Taleko (memperbaiki yang rusak), kelompok Harapan Baru, Berdikari dan Sahabat. Dalam kegiatan pelatihan, BDSP (maxi Blegur dari LSM) sangat antusias dalam memberikan pendampingan dan motivasi, agar kelompok masyarakat serius dalam melaksanakan usaha.

Pengadaan kandang dan perlengkapan kandang yang dilakukan oleh TPK, sangat baik, dimana semua anggota kelompok mengetahui, harga sapi per ekor (Rp.2.750.000,-), menyiapkan hijauan makanan ternak, dan membagi tugas pemberian makan.

“…kami selalu bertanya kepada TPK, tentang harga sapi, alat dan bahan kandang, serta perlangkapan lainnya. Mereka (TPK) cukup transparan…..arnold (anggota kelompok)”.

Untuk tugas pemberian makan, siapa saja yang menunjuk orang untuk masuk dalam kelompok pagi, siang dan malam?

“… kami sepakat bagi per dusun dulu, sampai dengan pengangkatan ketua kelompok yang baru, sesuai dengan kesepakatan, minggu depan (tanggal 5 Agustus) akan ada pertemuan di tingkat desa untuk membahas aturan kelompok, setelah itu baru kami jalankan tugas sesuai aturan baru…(Musa Bako)”

Pada saat ini, kandang dan ternak dan makanan tersedia, namun belum ada peraturan kelompok. Apa kendalanya?

“…sebenarnya sudah bisa pertemuan untuk itu, namun masyarakat masih sibuk memanen padi dan membersihkan kebun untuk menanam semangka. Kami sudah sepakat untuk pertemuan minggu depan, membuat aturan kelompok, sehingga bisa MDST…Eustakhius(kades Oebelo)”.

Pembibitan ternak sapi dalam kandang demplot terdiri dari 3 ekor betina dan 1 ekor jantan, dengan rata-rata umur sapi adalah 2,5 tahun, itu artinya, satu tahun lagi, ternak betina sudah dapat dikawinkan dan bisa menghasilkan anak. Bagaimana rencana kelompok tentang ini?

“…kami akan sepakat dalam kelompok nanti, untuk sementara kami atur anak pertama tetap dipelihara di lahan demplot untuk perkembangbiakan, kalau sudah mencapai 10 ekor, baru kami bagi dan jual. Tetapi ini baru rencana, kami akan membahasnya dalam pertemuan nanti…Donatus (Ketua kelompok)”

Ayam Buras

Untuk budidaya ayam buras, demplot dan ternak sudah tersedia, sehingga dalam waktu dekat akan dilakukan MDST. Jumlah kelompok pemanfaat 13, dengan anggota 100 orang ( 1 laki dan 99 perempuan). Sama halnya dengan ternak sapi, kelompok ini belum mempunyai ketua kelompok (Gapoktan) dan aturan kelompok. Semuanya akan dibahas bersama pada pertamuan mendatang. Pada saat ini, ternak ayam yang ada dikandang sebanyak 43 ekor, terdiri dari 4 jantan dan 39 betina. Harga perkeor untuk jantan Rp.65.000,- dan betina Rp.45.000,- semuanya merupakan ternak yang sudah siap untuk melakukan produksi dan reproduksi.

“…kami membeli disini saja, dari ayam lokal yang dimilik masyarakat, supaya mereka tidak asing lagi dengan kami, lagi pula kami tidak perlu mengeluarkan biaya transport untuk mencarinya…Merlin (anggota kelompok)”

Desa Pollo

Desa Polla merupakan desa yang paling dekat dengan Kecamatan, dengan jarak dari Kecamatan 2 km. Desa ini mendapat dua usulan kegiatan, antara lain kegiatan P3A (pemberdayaan Petani Pengguna Air dan Budidaya pembibitan dan demplot ternak sapi Bali. Untuk P3A, sebesar Rp.20.267.378, dan pembibitan sapi sebesar Rp. 78.724.211.

Semua kegiatan pelatihan dan demplot sudah selesai sejak sebulan yang lalu, namun TPK belum juga melakukan MDST. Ada apa gerangan?

“…saya minta maaf ya…disini ini, katanya menjunjung tinggi transparansi, tetapi semuanya hanya bohong saja. Nyatanya sampai hari ini kami tidak tahu harga sapi. Pengadaan sapi saja sangat tertutup. Pada saat mereka (TPK) datangkan sapi ke kandang kami tidak tahu, sudah tiga hari sapi dikandang, kebetulan ada anggota kelompok yang datang dan liat ada sapi dalam kandang, kemudian dia datang kasitahu saya bahwa sapi sudah ada di kandang. Saya juga kaget, dan kami sama-sama datang lihat. Apakah ini yang namanya transparansi…??? (Abraham Haiain, Ketua kelompok)”

Rupanya, prosedur dan mekanisme di desa Pollo sangat rahasia. Pada saat itu, tim ingin melakukan diskusi dengan TPK, tetapi tidak ada satupun yang hadir, alasannya ada urusan keluarga di Kupang. Oleh karena itu, ketua UPK diminta untuk memberikan klarifikasi tentang pernyataan ini.

“…sebenarnya sudah lama mau dilakukan MDST, hanya saja Desa Pollo kena penalty, alias sanksi lokal, untuk tidak mengikuti PNPM-MP 2009, akibat lambatnya semua progress. Dengan demikian kepala desa dan masyarakat, tidak mau melakukan pertemuan untuk program PNPM. Tetapi kami akan usahakan untuk MDST secepatnya, termasuk laporan TPK kepada masyarakat dan kelompok tentang harga sapi dan kandang…(Win Mandala,ketua UPK)”

Jumlah anggota kelompok sebanyak 19 orang, semuanya laki-laki. Pembagian tugas pemberian makan sudah dilakukan oleh ketua kelompok dan ditempel pada papan informasi, …luar biasa…sesuatu yang patut dipuji.

Desa Mio

Desa Mio dengan jarak 15 km kearah utara, dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Kecamatan. Desa Mio mendapat dua kegiatan, yaitu Budidaya dan pasca panen jagung, serta Budidaya pembibitan dan demplot sapi Bali.

Untuk demplot sapi Bali, kandang, peralatan makan dan ternak sudah tersedia, makanan ternak berupa hijauan (kinggrass, lamtoro dan gala-gala) sudah tersedia. Sumber air untuk ternak minum dan mandi tersedia. Hanya saja belum MDST. Ada apa ya?

“…kami masih sibuk untuk menyongongsong hari proklamasi, sehingga MDST tanggal 21 Agustus nanti. Rencananya kami melakukan pertemuan dulu untuk membuat aturan tertulis, karena yang ada sekarang hanya lisan saja…(Yohanis puai, ketua kelompok)”

Betapa hebatnya kelompok ini ya, sangat menghargai proklamasi. Tetapi masih lama, apakah semua orang sibuk untuk itu (hari raya)?

“…Masyarakat sini, biasanya menjelang 17 Agustus, ada pertandingan bola( bola kaki, Volly, dll), mereka ini mau nonton. Saya akan mengumpulkan masyarakat dan menyampaikan kepada kepala desa serta TPK untuk bisa di MDST sudah….(Daniel Poai, kepala dusun Mio).”

Jika demikian, tidak ada masalah lagi, kalau memungkinkan segera membuat aturan kelompok untuk disahkan oleh kepala desa pada saat MDST nanti….
Sampai jumpa….semoga.