Thursday, August 20, 2009

Ratusan unit mesin kompos yang pengadaannnya menggunakan alokasi dana desa (ADD) tahun 2006, mubazir karena sampai saat ini tidak dimanfaatkan . Alasannya, pihak desa tidak bisa mengoperasikan mesin tersebut dan hasil pengelolaan kompos pun tidak maksimal. Akibatnya, mesin yang diadakan oleh Bagian Pemerintah Desa Setkab TTS dan dijual Rp 17,6 juta per unit itu kini hanya jadi mesin pajangan di kantor desa (Pos Kupang, 14 Juli 2009).

kompos2Beberapa media massa seperti Pos Kupang dan Timor Express sempat marak memberitakan mengenai keberadaan mesin kompos yang pengadaannya menggunakan ADD. Bukan pemberitaan yang positif tentunya, praktik KKN dalam pengadaan barang ini diduga kuat sangat kental. Belum lagi dari segi pemanfaatan yang tidak optimal karena Mesin Kompos tersebut diserahkan tidak disertai dengan pelatihan kepada penerima manfaat mengenai bagaimana membuat kompos menggunakan mesin tersebut. Gambar disamping adalah Alm. Jacob Tefni Nuban (FK-SADI Kecamatan Amanuban Selatan) yang menunjukkan keberadaan mesin kompos yang selama ini hanya disimpan di Kantor Desa.Keberadaan PNPM AP (SADI) di beberapa lokasi di Kabupaten TTS kemudian memberikan warna perubahan atas pemanfaatan mesin kompos yang selama 3 tahun ini hanya dipajang dikantor Desa. Pada pelaksanaan SADI Tahun Anggaran 2008, mesin-mesin kompos itu dioperasionalkan secara “perdana”. Mitra BDSP yang memfasilitasi pelatihan di Desa-Desa yang mengusulkan kegiatan budidaya dan pengembangan demplot komoditas hortikultura mengajarkan bagaimana memanfaatkan mesin tersebut untuk pembuatan kompos.

Mesin yang dibiayai menggunakan ADD tersebut sebenarnya merupakan mesin pencacah bahan baku organik untuk pembuatan kompos. Bahan baku organik ini umumnya diambil dari sampah kebun atau bahan sisa aktifitas manusia yang bersifat organis (mudah terurai oleh mikroorganisme). Dalam proses pengomposan, bahan baku organik dicacah untuk mendapatkan bahan baku pengomposan yang lebih kecil dan halus sehingga memudahkan mikroorganisme menguraikan bahan tesebeut menjadi materi kompos. Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal, proses pencacaahan dilakukan minimal 2 sampai 3 kali. Pencacahan tahap pertama dilakukan untuk mendapatkan bahan baku organik yang lebih kecil, selanjutnya digunakan untuk mencampur hasil pencacahan tahap awal dengan bahan baku pengomposan yang lain seperti bekatul dan sekam.

Setelah dicacah, apakah kemudian proses menjadi selesai ? jawabnya adalah tidak. Proses pengomposan kemudian dilanjutkan dengan proses fermentasi bahan baku pengomposan yang telah dicacah selama beberapa waktu. Beberapa perlakuan utama dalam proses fermentasi bahan baku organik ini adalah pengadukan dan penyiraman air untuk menjaga kelembaban dan suhu bahan baku pengomposan. Suhu optimal proses pengomposan adalah 60 derajat, diatas itu bahan baku harus diaduk sambil dilakukan penyiraman menggunakan air. Dari pengalaman Penulis yang pernah terlibat sebagai pegiat dan peneliti pengomposan, dibutuhkan waktu sedikitnya 7 minggu untuk mengubah materi organik menjadi pupuk kompos.

Proses pengomposan merupakan sebuah seni, teknologi -salah satunya dalam bentuk mesin pencacah secanggih dan semahal apapun- bukanlah jaminan untuk mendapatkan kompos yang baik bagi perbaikan unsur hara dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga, salah besar ketika jajaran Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) hanya menyediakan mesin ansih! Teknologi harus diimbangi dengan rekayasa sosial dengan memberikan penguatan kapasitas untuk memanfaatkan teknologi dan membangun kesadaran diri pemanfaat program mengenai tujuan dibalik program. Penulis menyebutnya sebagai pendekatan TEKNOSOSIAL.

kompos1

Tampak pada gambar adalah pemanfaatan mesin pencacah sampah organik untuk kegiatan pengomposan di Kecamatan Kuan Fatu, salah satu lokasi wilayah intervensi program SADI

Kehadiran SADI melengkapi sebuah ketimpangan pendekatan yang selama ini dilakukan oleh jajaran Pemerintahan Kabupaten TTS. Pendekatan Teknososial dilakukan oleh SADI dengan mempersiapkan Masyarakat pemanfaat secara sosial untuk dapat memanfaatkan teknologi dengan baik dan menyadari tujuan mengapa pengomposan menjadi salah satu hal penting dalam daur investasi-invetasi usaha tani.

NB:

Sebagai sebuah akhir dari tulisan, Penulis menyertakan sebuah buku kecil mengenai dasar pengomposan. Buku kecil yang dimaksud saat ini dijadikan rujukan oleh beberapa stakeholders seperi USAID (dalam mengembangkan program ESP -Environmental Service Program-), Kebun Karinda (sebuah yayasan milik mantan Menteri Kehutanan Indonesia), GTPS – Gugus Tugas Pengeloaan Sampah, Jaringan AMPL dan lainnya. Semoga dengan membaca buku ini, dapat membantu pelaku SADI di Provinsi lain (Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara) serta mitra SADI dalam kegiatan pengomposan sebagai salah satu daur investasi usaha tani.

Silahkan mengunduh buku kecil yang dimaksud dengan cara klik kanan dan klik save as di Cover dan Isi Buku

~chr