Salah satu usulan kegiatan di Desa Ria Kecamatan Riung Barat pada pelaksanaan PNPM Agribisnis Perdesaan / SADI pada Tahun Anggaran 2008 adalah pelatihan budidaya dan pengolahan pasca panen komoditi Kedelai. Lokasi Desa Ria cukup mudah dijangkau dari Ibukota Kecamatan (Maronggela), yang menjadi persoalan justru perjalanan dari Ibukota Kabupaten (Bajawa) menuju Ibukota Kecamatan (Riung Barat). Dari Kota Bajawa ke Maronggela ditempuh setidaknya 2,5-3 jam dengan kendaraan, melalui kelokan-kelokan tajam seperti kebanyakan jalan di wilayah Flores.

Menuju lokasi ini, kita akan disuguhi pemandangan berupa padang-padang savana yang menyejukkan jika kita melaluinya di musim penghujan. Namun, pada musim kemarau, terik mentari timur serasa menggigit kulit, rasa dahaga kian menjadi ketika kita hanya hanya menjumpai hamparan rumput savana yang kering di sepanjang batas kaki langit.

DSCN0611

Tampak pada foto adalah Mama Yustin (paling kiri) berpose meemamerkan produknya bersama Pendamping Lokal SADI Kecamatan Riung Barat (tengah) dan FK-SADI Kecamatan Aimere (paling kanan).


Adalah Mama Yustin, salah satu anggota kelompok SPP (Simpan Pinjam Untuk Perempuan) Mawar dan juga menjadi pemanfaat dari pelaksanaan kegiatan pelatihan PNPM AP/SADI. Baru sekitar Bulan Juni lalu, Mama Yustin beralih profesi sebagai pembuat Tempe dan Tahu di Desa Ria, Kecamatan Riung Barat. Sebelumnya Mama Yustin hanyalah penjual sayuran di lapak Pasar Ibukota Kecamatan. Beliau biasa membeli sayur di Bajawa, bahkan sampai ke wilayah Boawae, untuk kemudian dijual kembali di Pasar Maronggela. Berkat pelatihan yang diselenggarakan melalui PNPM AP/SADI, beliau kemudian mencoba memberanikan diri memproduksi tempe dan tahu untuk kebutuhan pasar lokal di Kecamatan.

Kini, Mama Yustin juga sudah menjadi pemasok Tempe dan Tahu untuk 40 orang di Komunitas Biara Katolik OCD. Secara rutin, Pesanan biasanya dikirim setiap hari Selasa dan Jumat di lokasi Biara yang terletak tak jauh dari Ibukota Kecamatan Riung.

DSCN0547

Ketika ditanya mengenai proses pembuatan tempe, Mama Yustin menjelaskan dengan sangat lancar. Mulai dari proses kedelai dibersihkan, memasak, mencetak dan memeram semua dijelaskan dengan gamblang. Kini, setiap hari dia bisa menabung 20 sampai 50 ribu dari penjualan Tempe sebanyak 6 Kg di pasar lokal. Dari pengalaman sejak Bulan Juni sampai Agustus 2009 menjual tempe, beliau mengaku bahwa menjual tempe lebih menguntungkan jika dibandingkan dulu ketika beliau menjual sayuran. Menurut dia, ketika menjual sayuran keuntungannya sangat tipis karena mahalnya biaya transportasi ke Bajawa atau bahkan sampai ke Boawae, belum lagi kalau sayur tak terjual dan kemudian busuk atau layu.

Berawal dari proses coba-coba tersebut, dirinya kemudian ingin bertahan untuk tetap memproduksi tempe dan tahu karena lebih menguntungkan jika dibandingkan dari hasil menjual sayur yang sebelumnya dia lakukan. Selain menguntungkan, kini warga Riung Barat dapat merasakan Tempe dn Tahu yang selama ini sangat jarang mereka konsumsi. “Masyarakat bilang, rasa tempe buatan saya lebih enak dan gurih.” ungkap Mama Yustin mempromosikan tempe buatannya kepada kami.

Gagal pada saat awal berbisnis Tempe dan Tahu pernah dialami oleh Perempuan yang sudah memiliki 5 cucu ini, namun itu tak menyurutkan usahanya untuk maju dan terus berwirausaha !!!

~chr