Cerita dicelah diskusi kelompok
di lokasi demplot peternakan kelompok Tunbesi, desa Basmuti
Kecamatan Kuanfatu.
Kuanfatu 8 September 2009
Oleh : Djohardjo Padeda.
Fasilitator Kecamatan PNPM – AP
Kecamatan Kuanfatu – TTS

ambrosius biliForkes Ambrosius Biliu begitu nama lengkap Ketua Kelompok Ternak Tunbes di Desa Basmuti, Kecamatan Kuan Fatu. Beliau terlahir pada tanggal 20 Desember 1957, namun usia yang sudah setengah abad itu tak begitu nampak pada penampilan fisiknya yang terlihat masih bugar dan cekatan. Terlebih ketika berurusan dengan impian-impiannya dalam mengembangkan pertanian dan peternakan bagi kelompoknya.

Siapa yang menabur dia yang menuai! berkat kerja keras dan rasa ingin tahu yang berlebih, beliau cukup berhasil dalam mengembangkan usaha ternak paronisasi dan pembibitan sapi komoditas bali di Desa Basmuti, tepatnya di Dusun Tunmuni. ”Nekmese het nao mat”, begitu semboyan 140 anggota kelompok tani di Dusunnya ungkap Bapa Biliu. Artinya, bersatu untuk maju, sama halnya dengan motto si kompak PNPM Mandiri Perdesaan. Semboyan yang sederhana, namun sangat mengena dan pas ditengah meluapnya rasa saling tidak percaya dan saling telikung di kebanyakan masyarakat kita !!!

Pada setiap kesempatan, Beliau selalu berusaha mencoba hal-hal yang baru yang ia dapatkan baik karena belajar sendiri maupun karena hasil pendampingan dari pihak luar. Semua itu dilakukan karena ketidakpuasan dirinya atas krisis berkepanjangan, atas kehidupan warga Desa yang selalu resah dengan permasalahan rawan pangan pada setiap tahun. ”tingkat pendapatan warga yang rendah menjadi penyebab mengapa warga masyarakat tak dapat menjangkau kebutuhan pokok dan biaya pendidikan,” ungkap Pak Biliu. Harus ada upaya keras dari warga masyarakat untuk keluar dari situasi krisis. Lokasi geografis yang sulit dijangkau dengan tingkat kemiringan 35-45 % menyebabkan erosi dan hilangnya unsur hara di wilayah Kuan Fatu serta cuaca yang seringkali berubah menambah peliknya penanganan permasalahan pengembangan perekonomian di wilayah Kuan Fatu.

Sampai dengan saat ini, Bapa Biliu mengetahui kelompok tani Tunbes yang beranggotakan 140 orang. Total kepemilikan sapi anggota yaitu 162 ekor dan 2 Ha lahan konservasi hijauan makanan ternak seperti lamtoro, gala-gala, rumput benggala, kingres, dan pisang dengan sistem guludan. Sebagai upaya penanganan rawan pangan, Suami dari Ibu Yance Tolen ini berupaya bagaimana melakukan diversifikasi usaha sapi dengan kebun pertanian lahan kering.

Bapa Biliu hanya menamatkan bangku pendidikan di Sekolah Dasar, namun segudang pengalaman dari hasil pelatihan, magang, kunjungan silang, dan lokakarya dalam bidang peternakan membuat dirinya percaya diri bahwa sebuah poses pembelajaran bisa didapatkan di luar sekolah. Ragam kegiatan tersebut didapatkan baik dari pelaksanaan program yang diselenggarakan oleh PNPM Agribisnis Perdesaan maupun dari SKPD (SatuanKerja Perangkat Daerah).

Dari serangkaian pelaksanaan kegiatan yang dia peroleh dari ragam pemangku kepentingan, Bapa Biliu sangat terkesan dengan kegiatan studi banding di Kebun Percontohan Politani Negeri Kupang dalam pelaksanaan kegiatan PNPM Agribisnis Prdesaan/SADI. Pada pelaksanaan studi banding di kebun percontohan Politani Negeri Kupang dengan dukungan dana dari PNPM -AP, Bapa Biliu bersama anggota dapat melihat secara dekat sistem pertanian terpadu. Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama studi banding merupakan pengalaman berharga untuk mengkreasi lebih banyak lagi upaya pelaksanaan usaha tani. Didukung oleh ketekunannya mengikuti berbagai kegiatan peningkan kemampuan teknis yang difasilitasi oleh BDSP melalui PNPM – AP serta bimbingan teknis dari Dinas Peternakan, Bapa Biliu bersama anggota melakukan berbagai perubahan mendasar dalam mengelola usaha peternakan paronisasi sapi. Kalau sebelumnya pola peternakan dilakukan secara tradisional, kelompok dibawah pimpinannya mulai mengubah teknik dalam budidaya ternak.

Selain kepemimpinannya dalam kelompok yang cukup baik, bapak Biliu tergolong salah seorang petani yang sangat transparan soal keuangan. Hal ini dibuktikan bahwa dalam pengelolahan keuangan hasil pendapatan kelompok selalu mendiskusikan untuk mencapai mufakat menyangkut peruntukan kebutuhan baik kebutuhan kelompok maupun perorangan cetusnya dengan mantap.