Hari menjelang sore, kesibukan nampak seperti biasa kala sebuah aktivitas akan selesai ditutup! Partisipan Pelatihan Pelaku Kader dan Pendamping Lokal PNPM Agribisnis Perdesaan di Kabupaten Ngada lalu lalang menjelang penutupan acara pelatihan yang dilakukan bulan Nopember 2009 kali lalu. Sibuk dengan administrasi uang transport, takut jika nanti tak kebagian dan pada akhirnya bencana niscaya terjadi ketika Istri atau Suami bertanya. Mungkin bagi sebagian kita, menginap di hotel adalah hal yang biasa, namun tidak bagi sebagian besar pelaku Kader Desa di Kabupaten Ngada…….meninggalkan beberapa hari untuk mengikuti Pelatihan di kabupaten dan berangkat dari Desa yang nun jauh memang tak biasa dan dipastikan menimbulkan pertanyaan ini itu dari keluarga. Beberapa Nona ketika pamit pada keluarga untuk nginap dan tinggal di hotel saja sudah ada yang panik, tak sopan ujar keluarga tua mereka. Namun toh ketika dijelaskan mereka menginap karena ada kegiatan Pelatihan, apalagi untuk kegiatan PNPM, ijinpun dengan mudah diberikan!

Mengisi ruang kosong pada sore itu, kami sebagai fasilitator pelatihan mengisi acara dengan membagikan selembar angket pooling, setidaknya membuat sebagian besar Partisipan duduk manis, disibukkan dengan melingkari dan mengayunkan pena mengisi pertanyaan-pertanyaan dalam lembar angket yang berisi tentang pendapat mereka megenai layanan jasa pengembang agribisnis. Waktu berjalan sekitar 45 Menit, satu per satu angket diserahkan pada fasilitator, dan kemudian acara penutupan kegiatan pelatihanpun dilakukan.

Panitia memang telah menyiapkan angket untuk memperkaya data pendukung laporan pertanggungjawaban kegiatan dan persiapan jika nantinya pelaksanaan kegiatan lokakarya review penyelenggaraan konsep BDS (Business Development Service) tidak dapat dilakukan karena suatu alasan, salah satunya karena kecamatan Aimere sudah tak ada dana lagi untuk menyelenggarakan kegiatan lagi, terutama di Kabupaten, Dana Operasional Kegiatan (DOK) TA. 2008 dan 2009 di Kecamatan Aimere memang ttak mencukupi lagi.

Total angket terkumpul sebanyak 64 lembar dari isian 34 responden dari Partisipan laki-laki (53%) dan 30 responden dari Partisipan perempuan (47%). Responden dari berbagai latar belakang pendidikan, namun paling banyak adalah dari SMP (44%) dan SMU (31%), responden yang sempat mengenyam pendidikan tinggi hanya 17% saja. Responden berasal dari tiga lokasi PNPM Agribisnis Perdesaan yaitu di Kecamatan Golewa, Riung Barat, dan Aimere. Dari hasil rekapitulasi jawaban partisipan, tiga masalah utama yang menjadi penghambat pengembangan usaha tani di wilayah mereka adalah akses terhadap modal (64%), keterampilan bisnis (63%), dan pemasaran (61%)

Tiga isu tersebut yang setidaknya ke depan menjadi focus pada agenda-agenda penguatan kapasitas kelompok usaha tani. Namun, perkembangan teknologi mengenai teknik budidaya setidaknya tetap disisipkan mengingat 56 % responden masih mengganggap hal ini penting! Pengayaan metode dalam agenda penguatan kapasitas bagi kelompok tani perlu dipilah dan dipilih, tereutama untuk memberikan pengalaman untuk penyelesaian masalah-masalah dalam usaha tani. Pilihan metode penguatan kapasitas melalui lokakarya untuk mempertemukan kelompok tani dengan lembaga-lembaga kredit atau investor patut dicoba untuk kemudian memberikan peluang-peluang aksi. Secara umum 100 % jawaban partisipan menyatakan bahwa kelompok-kelompok Tani sangat membutuhkan layanan jasa pelatihan, pendampingan, konsultasi, dan akses informasi untuk mendukung pengembangan usaha tani.

Hal ini konsisten dengan 97 % jawaban mereka yang menyatakan bahwa keberadaan BDSP sebagai lembaga yang memberikan penguatan kapasitas membantu memecahkan sebagian permasalahan mereka dalam usaha tani. Sebanyak 80 % partisipan juga menjawab bahwa kehadiran BDSP cukup memberikan perubahan mendasar pada beberapa permasalahan mereka terutama dalam hal teknik budidaya. Berkaitan dengan penyelenggaraan BDSP dalam pelaksanaan PNPM Agribisnis Perdesaan, 100% partisipan menyatakan setuju jika konsep ini diadopsi dan kemudian dikembangkan dalam penyelenggaraan PNPM Mandiri Perdesaan di masa depan. Pendapat ini juga konsisten bahwa penyelenggaraan kegiatan penguatan kapasitas untuk masyarakat petani dalam menyelesaikan problem usaha tani mereka, jarang bahkan belum pernah dilakukan selama penyelenggaraan kegiatan di PNPM Mandiri Perdesaan.

Sebanyak 88% partisipan menyatakan bahwa usulan kegiatan dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan yang bersifat terbuka (open menu) selama ini memang dirasa belum mampu menjawab permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat petani miskin di wilayah mereka. Berekaitan dengan ini, partisipan memberikan keterangan jawaban misalnya: selama ini usulan dari kelompok tani masih belum dianggap penting, kesadaran masyarakat untuk menemukenali potensi ekonomi yang masih rendah, lemahnya kapasitas kelompok tani dalam merumuskan usulan kegiatan yang strategis untuk mendorong pengembangan usaha tani yang selama ini mereka lakukan, lemahnya pemahaman masyarakat untuk menterjemahkan sifat usulan kegiatan dalam PNPM Mandiri Perdesaan yang bersifat open menu. Berkaitan dengan harapan Partisipan untuk pengembangan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, berikut adalah resume jawaban dari partisipan:

  1. Hendaknya PNPM Mandiri Perdesaan tetap berupaya untuk mengembangkan model kegiatan yang berfokus pada kegiatan pertanian. Hal ini karena mayoritas masyarakat perdesaan bekerja di sektor pertanian;
  2. Hendaknya alur dan mekanisme tahapan perencanaan dan pelaksanaan dapat didesain lebih sederhana/singkat;
  3. Hendaknya penguatan kelembagaan usaha ekonomi lebih ditingkatkan lagi untuk menjalankan fungsi-fungsi strategis misalnya: pemasaran bersama, alih teknologi, pengembangan jaringan dan lainnya;
  4. Hendaknya PNPM Mandiri Perdesaan memberikan proses fasilitasi yang lebih baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam merumuskan usulan kegiatan strategis sesuai dengan potensi lokal;